Rabu, 27 Mei 2026

Tumbuh Ekonomi dengan Literasi, Unit Pegadaian Keliling Hadir Melayani

Unit Pegadaian Keliling hadir di tengah masyarakat, tujuannya tidak hanya memudahkan pelayanan, tetapi juga untuk menyebarluaskan literasi keuangan.

Tayang:
/Muhammad Nursina
INTERAKSI - Petugas Pemasaran Pegadaian, Satriyo Hanggoro (kiri) sedang berinteraksi dengan calon nasabah di Unit Pegadaian Keliling yang sedang berada di Pasar Sukodono, Sragen, Jumat (26/9/2025). Unit Pegadaian Keliling hadir di tengah denyut nadi aktivitas pasar, tujuannya agar memudahkan para nasabah, dan menjangkau calon nasabah lebih luas dengan berbagai produk dan layanan yang bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Tribun Solo/Muhammad Nursina 

TRIBUNNEWS.COM – Lalu lalang orang melewati pintu masuk Pasar Sukodono, Sragen, Jumat (26/9/2025). Sekitar pukul 07.00 WIB, pintu masuk itu tidak sepi dilewati orang yang hendak berbelanja. Tidak jarang juga mobil pick-up dan truk parkir di area pasar untuk menurunkan dagangannya, mulai dari buah, sayur, hingga makanan dan minuman siap saji. 

Ramai aktivitas di pasar jadi peluang banyak orang yang melakukan transaksi jual-beli, dan tidak sedikit yang menggantungkan kehidupan di tengah denyut nadi perekonomian. Begitu juga dengan Pegadaian. Pasar menjadi komunitas utama karena di sana terdapat berbagai macam orang dengan variasi usia dan karakternya untuk memenuhi kebutuhan. Mulai dari para pembeli, pedagang kecil, hingga pedagang besar.

“Pasar itu dihuni dengan berbagai macam orang, itu sesuai dengan produk kita,” ucap Pengelola Unit dan Pemasaran Pegadaian Sragen, Satriyo Hanggoro ketika ditemui Tribunnews di Pasar Sukodono, Jumat (26/9/2025).

Pegadaian menawarkan banyak produk dan layanan jasa yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Tentunya dengan tujuan untuk meringankan beban mereka, mempermudah, hingga mengembangkan usaha demi terciptanya pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Misalnya, ketika salah seorang pedagang membutuhkan uang untuk modal tambahan usahanya, mereka bisa menggadaikan barang atau melakukan pinjaman sesuai yang mereka butuhkan. Pegadaian punya produk Gadai Emas, Gadai Kendaraan, hingga Gadai Sertifikat.

Noni (bukan nama sebenarnya), seorang warga Sragen mengaku terbantu dengan produk yang ditawarkan oleh Pegadaian. Wanita berusia 50 tahun itu sudah menggunakan produk Pegadaian selama 15 tahun terakhir. Ia pernah kredit motor, emas, daftar haji, dan pinjaman untuk modal usaha.

“Saya sudah menggunakan Pegadaian 15 tahun. Sampai saat ini pun masih menggunakan produk dari Pegadaian untuk transaksi. Saya pernah kredit motor, daftar haji, dan kredit emas,” ucap Noni kepada Tribunnews, Senin (29/9).

“Pegadaian sangat membantu saya karena prosesnya cepat dan mudah. Misalnya hari ini saya butuh uang, saya bisa menghubungi petugas dengan memberikan KTP dan jaminan untuk pencairannya. Karena sudah sama-sama percaya, nanti petugas langsung mengirimkannya ke rekening saya,” sambungnya.

Kemudahan itu adalah bentuk apresiasi dari Pegadaian. Bagi masyarakat yang loyal seperti Noni dengan track record yang baik saat melakukan angsuran serta kepercayaan ketika bertransaksi, Pegadaian bisa memberikan prioritas utama kepada mereka.

“Kita pasti akan menghargai orang-orang itu, dalam artian memberikan penghargaan dengan memberikan prioritas kepada mereka. Apalagi jika gadai dalam skala besar. Kita akan carikan Solusi agar nasabah bisa percaya dan kembali melakukan transaksi di Pegadaian,” beber Satriyo.

Menurut Satriyo, solusi-solusi yang ditawarkan adalah wujud dari kepedulian Pegadaian. Pegadaian tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat dengan berbagai produk yang mereka tawarkan, tetapi juga memberikan literasi agar masyarakat bisa terbantu dalam mengelola keuangan. 

Unit Pegadaian Keliling

SOSIALISASI - Petugas Pemasaran Pegadaian, Satriyo Hanggoro (kiri) sedang berinteraksi dengan calon nasabah, Rudi Saputra di Unit Pegadaian Keliling yang sedang berada di Pasar Sukodono, Sragen, Jumat (26/9/2025). Pegadaian hadir di tengah denyut nadi pasar untuk menjangkau nasabah lebih luas, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang program Tabungan Emas, terutama untuk kawula muda sekaligus menyeleraskan program pemerintah untuk MengEmaskan Indonesia. Tribun Solo/Muhammad Nursina
SOSIALISASI - Petugas Pemasaran Pegadaian, Satriyo Hanggoro (kiri) sedang berinteraksi dengan calon nasabah, Rudi Saputra di Unit Pegadaian Keliling yang sedang berada di Pasar Sukodono, Sragen, Jumat (26/9/2025). Pegadaian hadir di tengah denyut nadi pasar untuk menjangkau nasabah lebih luas, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang program Tabungan Emas, terutama untuk kawula muda sekaligus menyeleraskan program pemerintah untuk MengEmaskan Indonesia. Tribun Solo/Muhammad Nursina (/Muhammad Nursina)

Salah satu cara yang dilakukan Pegadaian untuk mewujudkan kepedulian dan memberikan literasi keuangan itu adalah dengan adanya Unit Pegadaian Keliling (UPK).

Unit Pegadaian Keliling merupakan kendaraan khusus atau mobil layanan yang dioperasikan oleh petugas Pegadaian untuk memberikan layanan langsung kepada masyarakat yang jauh dari outlet Pegadaian. Biasanya, Pegadaian menyasar tempat ramai seperti pasar-pasar dan perkampungan.

Di UPK, masyarakat bisa melakukan semua pelayanan, mulai dari gadai, hingga pengajuan kredit motor. Masyarakat juga bisa berkonsultasi soal investasi dan tabungan emas, bahkan tabungan haji.

“Mobil keliling ini disesuaikan kepada outlet-outlet yang dalam tanda kutip blank spot. Terus kemudian titik selanjutnya adalah keramaian. Contoh di pasar ataupun event-event tertentu yang memerlukan kemungkinan untuk transaksi dan edukasi sekaligus literasi keuangan,” kata Pimpinan Cabang Pegadaian Sragen, Tri Bambang Sulistyo kepada Tribunnews.

Kemudahan itu dirasakan oleh Indah (bukan nama sebenarnya, 41), warga Sukodono, Sragen. Ia terbantu dengan adanya Unit Pegadaian Keliling yang ia jumpai di Pasar Sukodono, Sragen karena bisa memangkas waktu, uang, dan tenaga.

Untuk diketahui, Pasar Sukodono berjarak 16 kilometer ke outlet Pegadaian Sragen dengan waktu tempuh sekitar 25 menit jika menggunakan kendaraan roda dua. Bagi Indah yang bekerja di salah satu dinas pemerintahan ditambah dengan usaha di rumah, waktu adalah hal yang berharga.

“Sangat bermanfaat bagi saya karena saya hemat waktu, biaya, dan tenaga. Bagi saya itu membantu dan menguntungkan,” terang Indah soal manfaat UPK dalam hal pelayanan.

“Kalau bisa, (UPK) ada terus supaya bisa meringankan kalau butuh uang mau ke Pegadaian tidak perlu jauh-jauh. Kita sebagai masyarakat desa biar enak dan terjangkau karena keuntungan waktu dan tenaga,” tambahnya.

Untuk saat ini, UPK memang belum bisa menetap di satu daerah tertentu dalam jangka waktu yang lama karena masih penyesuaian dengan daerah lainnya. Tapi dengan kondisi ini, Pegadaian bisa mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dari masyarakat.

“Ketika nanti mobil-mobil keliling ini tidak ada berarti kita harus mencetak agen Pegadaian di wilayah tersebut. Agen ini akan menginduk ke Pegadaian Sragen atau induk lainnya. Masyarakat bisa transaksi ke agen tersebut sebagai kepanjangan tangan dari outline Pegadaian,” jelas Bambang menawarkan Solusi.

Dengan unit keliling, Pegadaian sejatinya tidak hanya memfasilitasi dan memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga untuk menyebarluaskan literasi keuangan karena bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Contohnya, untuk pengusaha yang sedang mengembangkan usahanya tetapi belum bankable dan membutuhkan modal, mereka bisa memanfaatkan KUR dari Pegadaian. Jika ingin menggunakan nominal yang lebih besar, bisa melalui KUPEDES.

“Kita ingin Masyarakat itu betul-betul bisa memanfaatkan produk Pegadaian. Sehingga kita berharap pelaku usaha tersebut bisa memutar modal kerja, mengaplikasikan dalam usahanya untuk lebih berkembang. Setelah berkembang kita akan edukasi terkait investasi atau tabungan emas,” jelas Bambang.

“Jadi, agar masyarakat itu dalam sebuah lingkungan ‘melek’ keuangan. Emas terkenal untuk melindungi nilai uang. Jadi untuk modal tersebut terus berputar. Misalnya nanti dibutuhkan dalam keadaan genting bisa dikonversikan menjadi rupiah lagi,” jelasnya.

Endang, seorang warga Kecamatan Sukodono, Sragen belum lama ini tertarik dengan investasi dan tabungan emas saat mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka hari guru yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Sragen yang bekerja sama dengan Pegadaian.

Perempuan berusia 55 tahun bukan seorang pengusaha, kesehariannya bekerja sebagai tenaga didik di salah satu sekolahan di daerah tersebut.

Endang kepincut membuka Tabungan Emas setelah mendapatkan literasi keuangan dari petugas Pegadaian yang ketika itu datang menggunakan unit keliling. Ia ingin menyisihkan uangnya supaya nanti setelah pensiun memiliki tabungan. Bahkan jika punya rezeki lebih, Endang ingin menabung untuk biaya umroh.

“Ia mas, buat tabungan kalau kita sudah pensiun agar ada celengannya. Walaupun hanya kecil-kecilan. InsyaAllah nanti lain waktu bisa berlanjut untuk yang umroh,” harap Endang.

Misi Mulia dengan Literasi

Berbicara tentang misi Unit Pegadaian Keliling yang ingin membangun literasi keuangan masyarakat, penting rasanya untuk berharap pada pertumbuhan ekonomi di masa depan. 

Literasi dengan pertumbuhan ekonomi bukan hanya teori, tetapi hal yang sudah dibuktikan secara empiris. Hubungan ini bersifat timbal balik dan kumulatif, itu artinya saling menguatkan seperti siklus virtous. 

Dengan literasi keuangan dapat mengubah perilaku ekonomi seseorang, yang nantinya berdampak pada perekonomian lebih luas. Orang yang melek keuangan cenderung membuat anggaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menabung secara teratur.

Analogi sederhananya adalah, perekonomian seperti mesin. Uang adalah bahan bakarnya. Literasi keuangan adalah panduan manual dan skill sang sopir. Tanpa panduan manual dan skill seorang sopir, bahan bakar bisa terbuang percuma. Dalam konteks ini membuat apa yang dikonsumsi masyarakat menjadi tidak produktif.

Mesin bisa rusak karena perawatan yang salah. Hal ini akan menimbulkan krisis keuangan pribadi. 

Ada juga yang mengakibatkan mobil tidak bisa mencapai tujuan dengan cepat, itu artinya pertumbuhan ekonomi bergerak dengan lambat.

Jika seorang sopir dapat memaksimalkan panduan manual dengan baik, maka bahan bakar bisa digunakan secara efisien untuk mencapai tujuan sejauh mungkin. Mesin yang terawat dan jarang rusak dalam ekonomi bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi lebih optimal dan stabilitas sistem keuangan.

Jadi, literasi keuangan bukan hanya tentang kemampuan individu mengelola uang, tetapi merupakan infrastruktur lunak yang vital bagi pertumbuhan ekonomi. Ia dapat menciptakan masyarakat yang lebih produktif dan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi.

Petugas Pemasaran Pegadaian, Satriyo Hanggoro sedang berinteraksi dengan calon nasabah
INTERAKSI - Petugas Pemasaran Pegadaian, Satriyo Hanggoro (kiri) sedang berinteraksi dengan calon nasabah di Unit Pegadaian Keliling yang sedang berada di Pasar Sukodono, Sragen, Jumat (26/9/2025). Pegadaian hadir di tengah denyut nadi pasar untuk menjangkau nasabah lebih luas, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang program Tabungan Emas, terutama untuk kawula muda sekaligus menyelaraskan program pemerintah untuk MengEmaskan Indonesia. Tribun Solo/Muhammad Nursina

Peraih Nobel 2018 dan 1995, Paul Polmer dan Robert Lucas mengungkapkan dalam Teori Pertumbuhan Endogen, pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh faktor-faktor dalam sistem ekonomi itu sendiri, di antaranya pengetahuan, inovasi, dan modal manusia.

Dalam hal ini, Pegadaian dengan inovasinya berupa Unit Pegadaian Keliling. Petugas yang bertanggung jawab akan memberikan informasi soal literasi keuangan kepada masyarakat itu sendiri.

“Individu yang melek finansial akan mengalokasikan tabungannya ke investasi yang lebih produktif. Pengusaha yang melek finansial akan mengelola modal usahanya dengan lebih efisien,” dalam teori dua raksasa ekonom dari Amerika Serikat itu.

Perilaku ini disebut dengan ‘total factor productivity’ yang merupakan mesin utama dalam teori pertumbuhan endogen. Prosesnya bersifat kumulatif karena pengetahuan (literasi) menyebar dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.

Bambang menyadari, program ini tidak bisa berdampak instan karena butuh kontinuitas untuk dapat mendampingi masyarakat secara berkala. Oleh sebab itu, pelayanan Unit Pegadaian Keliling diharapkan memiliki jadwal yang terencana berdasarkan hasil laporan petugas di lapangan, sehingga dapat menjalankan program tersebut dengan maksimal.

“Tentunya tidak bisa instan, artinya memang by process, minimal yang sudah dan harus dilakukan petugas mobil keliling ini memberikan edukasi keuangan ke masyarakat,” ungkap Bambang.

“Saya kira pelayanan keliling ini ke depannya bisa dijadwal untuk cabang-cabang ataupun outlet-outlet yang jauh dari outlet Pegadaian daerah.”

Pria asli Solo itu berharap, Pegadaian dengan program Unit Keliling ini dapat menyebarluaskan literasi keuangan ke berbagai lini masyarakat di berbagai daerah yang sulit dijangkau. Tujuannya untuk menyelaraskan dengan program pemerintah tentang mengEmaskan Indonesia di masa mendatang.

“Tugas kami harus meliterasi masyarakat tentang keuangan, tentang investasi. Jadi ketika masyarakat itu semuanya sudah paham tentang fungsi dari investasi atau tabungan emas, mereka akan lebih fleksibel memanfaatkan asetnya untuk apapun. Tujuannya ke sana, mengEmaskan Indonesia,” tutupnya.

(Tribunnews.com/Sina)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved