Pertumbuhan Ekonomi 2026 Bergantung pada Akselerasi Belanja Pemerintah
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan akan semakin terdorong oleh percepatan belanja pemerintah
Ringkasan Berita:
- Selain belanja pemerintah, BCA juga melihat peluang membaiknya konsumsi rumah tangga pada 2026, didukung stimulus dan perbaikan daya beli
- Dari sisi investasi, baik dari Danantara maupun investasi dari sektor swasta, tren peningkatan juga diperkirakan lebih positif.
TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan akan semakin terdorong oleh percepatan belanja pemerintah, seiring mulai matangnya berbagai program baru yang diluncurkan pada 2025.
Kepala Biro Banking Research and Analytics BCA Victor George Petrus Matindas mengatakan, 2025 merupakan tahun transisi bagi banyak program strategis pemerintah.
Sejumlah inisiatif, mulai dari program makan bergizi gratis hingga Koperasi Desa Merah Putih, baru mulai berjalan tahun ini, sehingga kontribusinya belum maksimal. Namun pada 2026, ia menilai pelaksanaannya akan lebih cepat dan efektif.
Baca juga: Jaga Pertumbuhan Ekonomi Jakarta, Gubernur Pramono Tetapkan Diskon Pajak Hotel dan Restoran
"Harusnya tahun 2026 program-program ini akan semakin lebih cepat dan lebih efektif lagi. Akselerasinya itu semakin bagus. Jadi belanja ke pemerintah itu tetap kita harapkan sebagai driver," tutur Victor dalam Seminar Nasional Indonesia Economic Outlook 2026 di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (24/11/2025).
Selain belanja pemerintah, BCA juga melihat peluang membaiknya konsumsi rumah tangga pada 2026, didukung stimulus dan perbaikan daya beli.
Dari sisi investasi, baik dari Danantara maupun investasi dari sektor swasta, tren peningkatan juga diperkirakan lebih positif.
"Dari sisi stimulus yang kita harapkan juga konsumsi itu membaik. Dari sisi investasi dari Danantara dan juga investasi swasta itu diharapkan juga membaik," ungkap Victor.
Meski beberapa komponen ekonomi diperkirakan menguat, Victor mengingatkan bahwa ekspor kemungkinan tidak akan menjadi penopang utama pada 2026.
Ia menyebut perlambatan ekonomi China dan dampak kebijakan tarif global sebagai faktor yang menekan kinerja ekspor Indonesia.
"Kalau seandainya kita bicara China itu kemungkinan akan melambat tahun depan, kemudian masih ada gangguan terkait tarif, maka kekuatan dari nett ekspor ini yang mungkin relatif lebih rendah daripada yang kita alami di semester 2 tahun ini," jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Victor menilai keberhasilan pertumbuhan ekonomi tahun depan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mendorong konsumsi (C) dan investasi (I) melalui belanja negara (G).
"Di sini kuncinya memang bagaimana sisi G-nya belanja pemerintah tadi bisa membantu sisi C dan I-nya ini tumbuh. Jadi kita harapkan itu bisa tumbuh dengan baik," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Seminar-Nasional-Indonesia-Economic-Outlook-2026-di-Universitas-Indonesia.jpg)