Kasus Penipuan Online Makin Banyak, Kenapa Kita Bisa Jadi Sasarannya?
Maraknya kejahatan siber tak lepas dari modus penipuan online yang terus berevolusi.
TRIBUNNEWS.COM - Dibalik kemudahan transaksi digital, ancaman penipuan online ikut mengintai. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC) memperkirakan kerugian akibat penipuan online di Tanah Air berkisar Rp4,6 triliun sepanjang November 2024 hingga Agustus 2025.
Tidak hanya itu, OJK juga mencatat, hingga Juli 2025, terdapat 20.628 laporan terkait penipuan melalui sambungan telepon atau fake call, di mana pelaku berpura-pura menjadi perwakilan dari institusi tertentu, termasuk perusahaan jasa keuangan.
Maraknya kejahatan siber tak lepas dari modus penipuan online yang terus berevolusi. Situasi ini kian merajalela karena rendahnya tingkat kewaspadaan pengguna yang justru dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya.
Berikut adalah faktor-faktor utama penyebab seseorang mudah terjerat penipuan:
1. Minimnya literasi keamanan digital
Di era yang serba terkoneksi, literasi bukan sekadar tahu cara memakai aplikasi, tetapi juga memahami risiko di baliknya. Banyak korban yang masih belum aware akan pentingnya menjaga kerahasiaan data seperti kode OTP (one time password), PIN, atau bahaya mengklik tautan bodong. Kesalahan ini disebut dengan human error yang sulit diatasi hanya dengan sistem keamanan bank.
2. Tergoda iming-iming keuntungan instan
Iming-iming mendapatkan hadiah dan keuntungan besar adalah senjata ampuh bagi para pelaku kejahatan siber. Pelaku lihai memainkan psikologi para korbannya dengan tawaran menggiurkan, mulai dari undian berhadiah dalam nominal besar, hadiah gratis, hingga investasi bodong yang menjanjikan imbal hasil dalam waktu singkat. Alhasil, korban tergoda dengan laba fantastis tersebut hingga tanpa sadar terjerumus dalam jebakan badman.
Baca juga: Jangan Asal Klik Link Undian Hadiah! Ini 3 Cara Amankan Diri dari Penipuan Digital
3. Tekanan gaya hidup konsumtif
Kondisi finansial yang terjepit akibat gaya hidup konsumtif kerap menjadikan seseorang target empuk. Saat butuh dana cepat atau tergoda harga barang yang tampak murah, korban lebih mudah terperangkap fake flash sale atau pinjaman online ilegal. Dorongan untuk segera memenuhi kebutuhan atau keinginan belanja sering membuat mereka lengah dan mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Perkuat Keamanan Digital dengan DANA Protection
Guna melindungi diri dari modus penipuan digital, menggunakan aplikasi keuangan yang aman dan memiliki fitur perlindungan yang terjamin menjadi langkah penting. Salah satu dompet digital yang menghadirkan proteksi menyeluruh bagi penggunanya adalah DANA, melalui DANA Protection.
DANA memiliki Jaminan Anti Penipuan yang membantu pengguna tetap aman saat bertransaksi. Melalui fitur Cek Risiko Penipuan atau Scam Checker di DANA Protection, kamu dapat mengantisipasi penipuan dengan memasukkan nomor ponsel, tautan, akun media sosial, atau nomor rekening mencurigakan yang mengaku-ngaku sebagai DANA.

Dengan adanya fitur ini, pengguna bisa mengecek keaslian nomor ataupun identitas yang mengaku sebagai pihak DANA. Setelahnya, kamu akan mendapatkan hasil pencarian yang sudah terintegrasi dengan layanan Komdigi. Jika hasil penelusuran menunjukkan nomor atau akun tersebut terindikasi penipuan, maka pengguna bisa langsung membuat laporan langsung di aplikasi DANA.
Nah, itulah keuntungan mengecek risiko penipuan lewat aplikasi DANA dengan menggunakan fitur Cek Risiko Penipuan atau Scam Checker di menu DANA Protection. Dengan begitu, kamu lebih terlindungi dan bisa bertransaksi lebih tenang tanpa perlu khawatir terjebak oleh penipuan online.
Yuk, tingkatkan transaksi digital yang lebih aman dan nyaman dengan menggunakan DANA!
Baca juga: Dompet Digital Ini Punya Fitur Scam Checker, Lindungi Akunmu dari Penipuan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-penipuan-online-2212.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.