Rabu, 29 April 2026

Kemenkeu Ungkap Penyebab Defisit APBN 2025 Bengkak Rp 695,1 Triliun

Kebijakan PPN 11 persen yang dampaknya belum sepenuhnya optimal turut menyebabkan defisit APBN 2026 membengkak jadi Rp695,1 triliun.

Tayang:
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Choirul Arifin
Nitis Hawaroh/Tribunnews.com
DEFISIT ANGGARAN - Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Febrio Kacaribu . Pemerintah tetap menempuh kebijakan ekspansif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi melalui belanja pemerintah di tengah efisiensi anggaran dan defisit APBN 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Kebijakan PPN 11 persen yang dampaknya belum sepenuhnya optimal terhadap penerimaan negara turut menyebabkan defisit APBN 2026 membengkak jadi Rp695,1 triliun.
  • Pemerintah tetap menempuh kebijakan ekspansif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi melalui belanja pemerintah.
  • Program-program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis, kooperasi desa merah putih, sekolah rakyat, program 3 juta rumah, sekolah unggul Garuda, ketahanan pangan tetap dilanjutkan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan, tahun 2025 merupakan periode yang cukup menantang bagi perekonomian nasional terutama dari sisi penerimaan negara.

Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Febrio Kacaribu mengatakan, hal tersebut menjadi penyebab defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 yang melebar hingga Rp 695,1 triliun dari Rp 616,2 triliun.

"Di satu sisi tadi pendapatan kita cukup menantang karena harga komunitas juga turun. Lalu juga kita menghadapi beberapa situasi di mana tadi dividen kita juga kan jadinya pindah ke Danantara," kata Febrio saat Konferensi Pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026).

Faktor lain yang memengaruhi adalah kebijakan PPN 11 persen yang dampaknya belum sepenuhnya optimal terhadap peningkatan penerimaan negara.

Meski begitu, Febrio menegaskan pemerintah tetap menempuh kebijakan ekspansif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

"Tahun ini kita memang membutuhkan ekspansi. Sehingga dari sisi pendapatan tadi kurang dari yang diharapkan, tetapi belanja walaupun kita efisienkan tetap kita gunakan untuk ekspansi," tutur dia.

Di satu sisi, pemerintah juga tetap mempertahankan belanja negara meski dilakukan efisiensi.

Sehingga menurut dia, program-program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis, kooperasi desa merah putih, sekolah rakyat, program 3 juta rumah, sekolah unggul Garuda, ketahanan pangan ter-deliver dengan sangat baik. 

Baca juga: Defisit APBN 2025 Bengkak Rp695,1 Triliun, Purbaya: Untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi

"Contohnya misalnya adalah sisi pertanian tadi Pak Menteri menyebutkan bahwa stok beras kita di Bulog itu juga tertinggi sepanjang masa," ucap Febrio.

"Dengan ekspansi inilah kita harapkan juga nanti perbaikan pertumbuhan ekonomi juga terdukung dan nanti membalikkan kondisi perekonomian dan pendapatan harapannya nanti akan membaik," imbuhnya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved