Keberlanjutan Bisnis Tembakau Deli di Tengah Dinamika Industri Perkebunan
Tembakau Deli yang pertama kali dibudidayakan secara komersial oleh Jacobus Nienhuys, seorang pedagang Belanda di Sumatera Timur pada 1863
Ringkasan Berita:
- Tembakau Deli adalah tembakau legendaris dari Sumatera Timur (Medan dan sekitarnya)
- Tembakau ini sempat mendapat julukan “emas hijau” karena reputasinya sebagai pembungkus cerutu terbaik di dunia
- PTPN I Regional 1 terus menggenjot produksi dan memperluas tanaman tembakau khas Deli ini di lahan-lahan miliknya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tembakau Deli yang pertama kali dibudidayakan secara komersial oleh Jacobus Nienhuys, seorang pedagang Belanda di Sumatera Timur pada 1863.
Tembakau ini sempat mendapat julukan “emas hijau” karena reputasinya sebagai pembungkus cerutu terbaik di dunia.
Sohor sampai Eropa, komoditas ini juga menjadi warisan tak ternilai bagi PTPN ketika nasionalisasi Perusahaan Belanda pada 1956.
Namun, fluktuasi dan diversifikasi usaha tampaknya membuat komoditas perisa bahan adiksi gaya hidup pria itu meredup.
Baca juga: Ditjen Bea Cukai dan Peruri Jamin Pasokan Pita Cukai 2026 ke Industri Hasil Tembakau
Kini, tuntutan diferensiasi usaha dan komoditas di tubuh PTPN I memberi perhatian kembali kepada tembakau Deli. Melalui kajian mendalam, PTPN I Regional 1 mengambil kebijakan untuk mengembalikan kejayaan warisan sejarah ini ke permukaan. Selain soal reputasi, “diplomasi daun” ini dinilai memiliki prospek masa depan bisnis yang sangat baik.
“Kita baca sejarah, tembakau Deli ini luar biasa. Sejak tahun 1863, produk tembakau ini sudah terkenal sampai Eropa. Bahkan, ketika dikomersialkan dengan mendirikan pabrik level industri, saat itu Belanda sampai memobilisasi tenaga kerja dari Jawa. Kita kenal dengan istilah kolonisasi ken Deli,” ujar Direktur PTPN I Teddy Yunirman Danas di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Teddy menyampaikan dukungan penuh kepada Prakarsa PTPN I Regional 1 yang terus menggenjot produksi dan memperluas tanaman tembakau khas Deli ini di lahan-lahan miliknya.
Inisiatif ini, menurut Plt.Region Head PTPN I Regional 1 Wispramono Budiaman, bukan sekadar bisnis yang memang prospektif, tetapi juga bisnis yang melekatkan identitas keunggulan suatu kawasan di kancah global.
Wajah ekonomi dan sosial Kota Medan sebagai lokus utama Deli, akan menjadi salah satu legenda perkebunan Indonesia yang masih bertahan hingga hari ini.
Menjaga muruah Tembakau Deli di tengah modernisasi, Teddy mengingatkan tantangan pelestarian semakin kompleks seiring dengan pesatnya urbanisasi.
Namun, ia memastikan PTPN I tetap fokus menjaga teknik penanaman tradisional yang presisi agar kualitas legendaris Tembakau Deli tidak tergerus zaman.
"Tembakau Deli bukan sekadar tanaman, ia adalah saksi sejarah yang telah mendunia selama lebih dari satu sentengah abad. Kami memikul tanggung jawab besar untuk memastikan kualitas ini tetap sinkron dengan modernisasi industri. Ini adalah langkah kami menjaga 'Diplomasi Daun' Indonesia di mata internasional," tutur Teddy.
Strategi Pelestarian 2026 Guna menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur di Sumatera Utara, PTPN I menjalankan tiga strategi utama. Pertama, melakukan konservasi ketat terhadap lahan inti yang memiliki karakteristik tanah unik yang tidak ditemukan di tempat lain.
Baca juga: Bupati Sampang Dukung Gagasan Pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau di Madura
Kedua, PTPN I mulai melakukan digitalisasi edukasi sejarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tembakau-deli-PTPN-I.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.