Minggu, 19 April 2026

DBS: Suku Bunga Dipangkas, Prospek Investasi Indonesia 2026 Masih Positif

Prospek 2026 dinilai lebih baik karena kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan banyak negara melalui bank sentralnya.

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/Lita Febriani
PROSPEK EKONOMI 2026 - Head of Investment and Insurance Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo di peluncuran Pegasus (Pensiun Gak Susah) diJakrta, Senin (19/1/2026). Penurunan suku bunga di berbagai negara menjadi salah satu faktor utama yang dapat mendorong kembali konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Penurunan suku bunga di berbagai negara menjadi salah satu faktor utama yang dapat mendorong kembali konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di 2026.
  • Dengan suku bunga yang lebih rendah, biaya pinjaman menjadi lebih murah sehingga masyarakat terdorong untuk meningkatkan konsumsi.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memasuki awal 2026, prospek ekonomi dan investasi global masih dibayangi berbagai ketidakpastian. Namun sejumlah indikator mulai menunjukkan arah yang lebih baik, terutama didukung oleh kebijakan moneter global.

Penurunan suku bunga di berbagai negara menjadi salah satu faktor utama yang dapat mendorong kembali konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Head of Investment and Insurance Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo mengatakan prospek investasi pada 2026 cenderung positif berdasarkan pandangan Chief Investment Officer (CIO) grup DBS yang diperbarui secara berkala.

"Tahun 2026 ini berdasarkan dari CIO (Chief Investment Officer) kami yang ada di grup, kami selalu mendapatkan update secara kuartal dan ini adalah yang kita dapat di awal tahun ini mengenai prospek kita di tahun 2026 yang menurut mereka relatif positif," tutur Djoko di acara peluncuran Pegasus (Pensiun Gak Susah) di Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Djoko menyebut dunia investasi tidak pernah lepas dari ketidakpastian. Karena itu, penilaian positif tersebut bersifat relatif dan tetap harus disikapi dengan kehati-hatian.

"Kenapa saya selalu mengatakan relatif? Karena di dalam dunia investasi itu kita tidak bisa memastikan. Tapi paling tidak, kita relatifnya bisa tahu ini cenderung positif atau negatif," jelasnya.

Salah satu faktor utama yang membuat prospek 2026 dinilai lebih baik adalah kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan banyak negara melalui bank sentral masing-masing.

Kebijakan tersebut untuk mendorong konsumsi masyarakat dan membuat aktivitas ekonomi lebih baik.

"Kenapa cenderungnya positif? Karena ada beberapa faktor. Faktor yang paling kelihatan sekali adalah karena sekarang semua pemerintah melalui bank sentralnya itu sudah menurunkan suku bunga," terangnya.

Dengan suku bunga yang lebih rendah, biaya pinjaman menjadi lebih murah sehingga masyarakat terdorong untuk meningkatkan konsumsi, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun pembelian aset jangka panjang seperti properti.

"Kalau suku bunga di luar lagi rendah, maka kita cenderung untuk bisa konsumsi. Mengonsumsi yang sifatnya untuk kepentingan dipakai sehari-hari atau bahkan misalnya untuk membeli rumah, contoh gampangnya. 'Oh ini bunga lagi turun', maka bunga cicilan bisa lebih murah, maka akan ada konsumsi dalam area sana," lanjut Djoko.

Djoko juga menyoroti tren penurunan suku bunga global yang terjadi sepanjang 2025, di mana sebagian besar negara mulai melonggarkan kebijakan moneternya, meski masih ada beberapa pengecualian.

"Dengan penurunan suku bunga, maka dengan biaya yang lebih murah, maka diharapkan para konsumen, bukan hanya konsumen bahkan termasuk pemerintah juga, itu akan meningkatkan konsumsi terhadap barang-barang yang akibatnya akan mendorong ekonomi lebih maju," ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan konsumsi masyarakat akan menciptakan efek berantai bagi perekonomian suatu negara.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved