Selasa, 2 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Kembali Melanjutkan Penguatan Pagi Ini, Tinggalkan Level Rp16.900 per Dolar AS

Presiden AS Donald Trump yang mundur dari ancaman tarif Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland menjadi faktor utama.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
NILAI TUKAR - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. rupiah di pasar spot dibuka ke zona hijau di posisi Rp 16.853 per dolar Amerika Serikat (AS), atau naik 0,25% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.896 per dolar AS.  
Ringkasan Berita:
  • Rupiah di pasar spot dibuka ke zona hijau di posisi Rp 16.853 per dolar Amerika Serikat (AS).
  • Ringgit Malaysia melonjak 0,4 persen, peso Filipina naik 0,2?n dolar Taiwan menanjak 0,11%. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (23/1/2026) kembali mengalami penguatan, meninggalkan level Rp16.900 per dolar AS.

Tercatat, rupiah di pasar spot dibuka ke zona hijau di posisi Rp 16.853 per dolar Amerika Serikat (AS), atau naik 0,25% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.896 per dolar AS. 

Tak hanya rupiah, mata uang negara Asia lainnya juga menguat.

Ringgit Malaysia melonjak 0,4%, peso Filipina naik 0,2?n dolar Taiwan menanjak 0,11%. 

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp 16.896 per Dolar AS Pada Kamis Sore Ini

Kemudian, yuan China naik 0,07%, dolar Singapura menguat tipis 0,03%.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas yang merupakan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap penguatan ini seiring dengan pelemahan indeks dolar AS.

Ada beberapa faktor dari luar dan dalam negeri yang menyebabkan penguatan rupiah ini.

Dari luar negeri, Presiden AS Donald Trump yang mundur dari ancaman tarif Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland menjadi faktor utama.

Donald Trump juga mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan. Harga emas pun ditutup di level 4.830 dolar AS, naik 1.4 persen.

"Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Donald Trump menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif atau tindakan militer atas Greenland," kata Ibrahim.

Namun, kata Ibrahim, Donald Trump tetap memperingatkan jika dia tidak mendapatkan kesepakatan mengenai Greenland, akan dipertimbangkan tanggapan Eropa terhadap tuntutannya.

Merujuk laporan Bloomberg, Ibrahim menyebut Donald Trump tak akan mundur dari pemberlakuan tarif pada barang-barang dari negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk mengambil alih Greenland.

AS dan Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) disebut telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan sehubungan dengan Greenland.

Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil pun memperingatkan terhadap optimisme prematur setelah Donald Trump menarik kembali ancaman untuk mengenakan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk merebut Greenland.

"Tanda-tanda peningkatan kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa," ujar Ibrahim.

Adapun pada hari ini fokus pasar akan tertuju pada rilis angka Produk Domestik Bruto (PDB), Klaim Pengangguran Awal, dan ukuran inflasi pilihan Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE).

Dalam Negeri

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai faktornya datang dari optimisme pasar yang memandang pemerintah mampu menangani praktik under invoicing impor dan ekspor, sehingga bisa menutup defisit anggaran negara.

"Praktik ilegal tersebut sudah terjadi secara struktural, sebab melihat nominalnya yang besar hingga ribuan triliun," kata Ibrahim.

Andai saja mampu menggaet 30 persen dari kerugian akibat under invoicing ekspor, pemerintah dinilai mampu menutup defisit anggaran negara.

Under invoicing ekspor turut menjadi penyebab shortfall penerimaan negara.

"Hal ini diyakini terjadi shortfall penerimaan negara pada tahun lalu yang didorong salah satunya oleh under invoicing ekspor," ujar Ibrahim.

Ibrahim bilang, isu under invoicing ekspor sebenarnya sudah lama terjadi, tetapi baru ramai akhir-akhir ini.

Isu tersebut baru ramai setelah terjadi defisit anggaran dalam APBN yang mendekati 3 persen pada 2025, sehingga membuat rupiah terus terkontraksi.

Masalah under invoicing menjadi fokus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa karena pemberantasan praktik ini disebut dapat menjadi tambahan penerimaan bagi Bea Cukai.

Ibrahim pun memprediksi pada perdagangan besok rupiah akan fluktuatif, tetapi ditutup menguat direntang Rp 16.860 - Rp.16.900 per dolar AS. 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved