Sabtu, 24 Januari 2026

Rupiah Menguat ke Rp 16.896 per Dolar AS Pada Kamis Sore Ini

Pada perdagangan Kamis (22/1/2026) sore ini, rupiah ditutup menguat 40 poin ke Rp 16.896 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tribunnews/JEPRIMA
pada Jumat (23/1/2026), perdagangan rupiah diprediksi akan fluktuatif, tetapi ditutup menguat di rentang Rp 16.860 - Rp.16.900 per dolar AS 

Ringkasan Berita:
  • Ibrahim memprediksi pada perdagangan besok rupiah akan fluktuatif, tetapi ditutup menguat di rentang Rp 16.860 - Rp.16.900 per dolar AS
  • Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap penguatan rupiah sore ini seiring dengan pelemahan indeks dolar AS

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Kamis (22/1/2026) sore ini, rupiah ditutup menguat 40 poin ke Rp 16.896 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas yang merupakan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap penguatan rupiah sore ini seiring dengan pelemahan indeks dolar AS.

Ada beberapa faktor dari luar dan dalam negeri yang menyebabkan penguatan rupiah ini.

Dari luar negeri, Presiden AS Donald Trump yang mundur dari ancaman tarif Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland menjadi faktor utama.

Baca juga: Menkeu Purbaya Minta Publik Tak Khawatir, Pelemahan Rupiah Tidak akan Memicu Krisis Ekonomi

Donald Trump juga mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan. Harga emas pun ditutup di level 4.830 dolar AS, naik 1.4 persen.

"Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Donald Trump menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif atau tindakan militer atas Greenland," kata Ibrahim dalma keterangan tertulis pada Kamis ini.

Namun, kata Ibrahim, Donald Trump tetap memperingatkan jika dia tidak mendapatkan kesepakatan mengenai Greenland, akan dipertimbangkan tanggapan Eropa terhadap tuntutannya.

Merujuk laporan Bloomberg, Ibrahim menyebut Donald Trump tak akan mundur dari pemberlakuan tarif pada barang-barang dari negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk mengambil alih Greenland.

AS dan Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) disebut telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan sehubungan dengan Greenland.

Baca juga: Pengamat Beberkan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Ambruk hingga Dekati Rp17.000 per Dolar AS

Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil pun memperingatkan terhadap optimisme prematur setelah Donald Trump menarik kembali ancaman untuk mengenakan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk merebut Greenland.

"Tanda-tanda peningkatan kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa," ujar Ibrahim.

Adapun pada hari ini fokus pasar akan tertuju pada rilis angka Produk Domestik Bruto (PDB), Klaim Pengangguran Awal, dan ukuran inflasi pilihan Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE).

Dalam Negeri

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai faktornya datang dari optimisme pasar yang memandang pemerintah mampu menangani praktik under invoicing impor dan ekspor, sehingga bisa menutup defisit anggaran negara.

"Praktik ilegal tersebut sudah terjadi secara struktural, sebab melihat nominalnya yang besar hingga ribuan triliun," kata Ibrahim.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved