Pengamat: Thomas Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI Tak Berdampak Signifikan Terhadap Rupiah
Terpilihnya Thomas Djiwandono tidak akan menimbulkan gejolak berarti terhadap nilai tukar rupiah
Ringkasan Berita:
- Terpilihnya Thomas Djiwandono tidak akan menimbulkan gejolak berarti terhadap nilai tukar rupiah
- Kalaupun ada dampaknya, hanya sedikit mendukung penguatan rupiah, terutama pada pembukaan perdagangan pagi.
- Langkah BI menahan suku bunga di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2025 turut meredakan kekhawatiran pasar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, terpilihnya Thomas Djiwandono tidak akan menimbulkan gejolak berarti terhadap nilai tukar rupiah pada Selasa (27/1/2026).
Dampaknya justru cenderung netral hingga sedikit mendukung penguatan rupiah, terutama pada pembukaan perdagangan besok pagi.
Menurut Josua, keputusan tersebut memberikan kepastian yang sebelumnya sempat membuat pelaku pasar cemas, khususnya terkait arah kebijakan dan independensi Bank Indonesia (BI).
"Terpilihnya Thomas Djiwandono cenderung berdampak netral hingga sedikit mendukung penguatan, bukan memicu pelemahan besar," ujar Josua saat dihubungi Tribunnews, Senin (26/1/2026).
Ia juga menilai langkah BI yang menahan suku bunga di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2025 untuk menjaga stabilitas rupiah, turut meredakan kekhawatiran pasar.
Selain itu, penekanan Komisi XI DPR RI bahwa kebijakan moneter ditetapkan secara kolektif melalui Dewan Gubernur BI juga dinilai penting. Hal tersebut membuat kekhawatiran bahwa arah kebijakan akan ditentukan oleh satu orang cenderung cepat mereda.
"Keputusan hari ini memberi kepastian yang sebelumnya sempat membuat pasar gelisah soal arah dan kemandirian bank sentral, apalagi yang bersangkutan menyampaikan sudah keluar dari partai dan menegaskan akan menjaga mandat serta kemandirian BI, sementara BI sendiri baru saja menahan suku bunga demi menjaga stabilitas rupiah," sambungnya.
Meski demikian, Josua menegaskan bahwa penguatan rupiah ke level Rp16.782 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global, terutama pelemahan dolar AS yang mendorong penguatan mayoritas mata uang Asia.
Baca juga: 2 Pertimbangan DPR Pilih Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
"Penguatan rupiah hari ini ke Rp16.782 per dolar AS lebih besar ditopang faktor global, terutama dolar AS yang melemah dan ikut mengangkat mayoritas mata uang Asia, bahkan sempat mendorong USD/IDR ke sekitar 16.770," tutur dia.
Untuk arah pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan besok, Josua menilai faktor penentu utama tetap berasal dari data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis malam ini, seperti data pesanan barang tahan lama dan indikator aktivitas sektor manufaktur.
Jika data ekonomi AS dirilis lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi kembali menguat sehingga rupiah bisa dibuka melemah tipis di kisaran Rp16.800–Rp16.850 per dolar AS.
Baca juga: Thomas Djiwandono Pamer Surat Pengunduran Diri dari Bendum Gerindra di Komisi XI DPR: Ini Resmi
Sebaliknya, jika data AS lebih lemah dan dolar tetap tertekan, rupiah berpeluang bertahan menguat tipis dan menguji level Rp16.700–Rp16.800 per dolar AS.
"Meski begitu, ruang penguatan biasanya tidak lebar karena pasar masih menimbang dua penahan utama, yaitu potensi pelonggaran batas defisit fiskal dan ketidakpastian geopolitik yang bisa membatasi penguatan rupiah berkelanjutan," tegas dia.
Thomas resmi jadi Deputi Gubernur BI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Thomas-Djiwandono-Fit-and-Proper-Test-Calon-Deputi-Gubernur-BI_20260126_185101.jpg)