Iran Vs Amerika Memanas
Harga Emas Naik Tajam 2 Persen, Dolar Loyo dan Minyak Turun, Pasar Sambut Harapan Damai Perang Iran
Harga emas melonjak 2 persen saat dolar melemah dan minyak turun, dipicu harapan damai perang Iran.
Ringkasan Berita:
- Harga emas dunia melonjak lebih dari 2 persen di tengah pelemahan dolar AS dan turunnya harga minyak global.
- Kondisi ini meredakan kekhawatiran inflasi serta tekanan kenaikan suku bunga, sehingga mendorong minat investor ke aset aman.
- Sentimen pasar juga terdorong harapan berakhirnya perang Iran setelah muncul laporan rencana negosiasi dari AS.
TRIBUNNEWS.COM - Harga emas dunia naik tajam lebih dari 2 persen pada perdagangan Rabu (25/3/2026), dipicu pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya harga minyak global.
Reuters melaporkan, penguatan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran inflasi tinggi serta tekanan kenaikan suku bunga global.
Harga emas spot tercatat naik 2,1 persen menjadi 4.568,29 dolar AS per troy ons.
Sebagai catatan, 1 troy ons setara sekitar 31,1 gram, sementara di Indonesia harga emas umumnya dihitung per gram.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melonjak sekitar 3,8 persen menjadi 4.569,4 dolar AS per troy ons.
Dolar Melemah Dorong Emas
Melemahnya dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas.
Al Jazeera melaporkan, pelemahan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi investor global.
Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Baca juga: Analis: AS Klaim Negosiasi Jalan, Iran Tegas Membantah, Siapa Mainkan Narasi di Balik Perang?
Analis OCBC, Christopher Wong, mengatakan permintaan aset aman kembali menguat seiring melemahnya dolar.
Ia menilai emas tetap memiliki daya tarik kuat di tengah ketidakpastian global.
Harga Minyak Turun Redakan Tekanan
Penurunan harga minyak global juga turut menopang kenaikan harga emas.
Economic Times melaporkan, harga minyak yang turun di bawah 100 dolar AS per barel membantu meredakan kekhawatiran inflasi.
Tekanan inflasi yang lebih rendah membuat pasar tidak terlalu khawatir terhadap kenaikan suku bunga.
Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.