Selasa, 19 Mei 2026

RI Alami Deflasi 0,15 Persen di Januari 2026, Dipicu Harga Cabai dan Bawang Merah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 secara bulanan

Tayang:
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Sanusi
dok. Bapanas
BPS mencatat, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar, dengan deflasi 1,03 persen dan andil terhadap deflasi sebesar 0,30 persen. Sejumlah komoditas pangan yang paling dominan mendorong deflasi antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit dengan andil deflasi 0,08 persen, bawang merah dengan andil deflasi 0,07 persen, seiring panen raya. 
Ringkasan Berita:
  • Deflasi Januari 2026 terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan serta tarif yang diatur pemerintah
  • BPS mencatat, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 secara bulanan (month to month). 

Deflasi ini ditandai dengan penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan deflasi Januari 2026 terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan serta tarif yang diatur pemerintah.

Baca juga: Cerita Kepala BPS Blusukan Bersama Menteri Ara ke Kawasan Kumuh Jakarta 

"Pada Januari tahun 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month atau terjadi penurunan indeks harga IHK dari 109,92 pada Desember 2025 menurun menjadi 109,75 pada Januari tahun 2026," ujar Ateng dalam Rilis BPS, Senin (2/2/2026).

BPS mencatat, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar, dengan deflasi 1,03 persen dan andil terhadap deflasi sebesar 0,30 persen.

Sejumlah komoditas pangan yang paling dominan mendorong deflasi antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit dengan andil deflasi 0,08 persen, bawang merah dengan andil deflasi 0,07 persen, seiring panen raya. Daging ayam ras dengan andil deflasi 0,05 persen, telur ayam ras dengan andil deflasi 0,03 persen.

"Nah sedangkan komoditas lain yang memberikan andil deflasi adalah bensin dan tarif angkutan udara dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen," tutur Ateng.

Baca juga: BPS Sebut 80 Persen Petani Berusia di Atas 40, FAO Dorong Regenerasi Petani Indonesia

Berdasarkan komponennya, deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh komponen harga bergejolak (volatile food) yang mengalami deflasi 1,96 persen dan memberikan andil deflasi terbesar, yakni 0,33 persen.

Komoditas utama penyumbang deflasi pada komponen harga bergejolak meliputi cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami deflasi sebesar 0,32 persen, dengan andil deflasi 0,06 persen. Komoditas yang berperan antara lain bensin, tarif angkutan udara, serta tarif angkutan antarkota.

Di sisi lain, komponen inti justru mengalami inflasi sebesar 0,37 persen, yang mencerminkan masih adanya tekanan harga dari permintaan dan faktor struktural lainnya.

Meski secara umum terjadi deflasi, BPS mencatat masih terdapat beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi pada Januari 2026. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan dengan andil inflasi 0,16 persen. Ikan segar, dengan andil inflasi 0,06 persen serta tomat, dengan andil inflasi 0,02 persen.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved