Selasa, 19 Mei 2026

Rupiah Makin Melemah ke Posisi Rp 17.735, Diperparah oleh FOMO Beli Valas

Pengamat valas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin kompleks.

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews/Jeprima
RUPIAH TERUS MELEMAH - Petugas menghitug uang kertas rupiah di kantor cabang Bank Muamalat di Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Pada perdagangan Selasa siang pukul 13.00 WIB, rupiah melemah ke level Rp 17.735 per dolar AS. Pengamat valas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin kompleks. 

Ringkasan Berita:
  • Pada perdagangan Selasa siang pukul 13.00 WIB, rupiah melemah ke level Rp 17.735 per dolar AS.
  • Pengamat valas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin kompleks.
  • Tekanan terhadap rupiah juga datang dari tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri, terutama untuk impor minyak.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah hari ini terus melemah dan kembali berada di bawah tekanan meningkatnya tensi geopolitik global dan tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri.

Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) siang pukul 13.00 WIB, rupiah melemah ke level Rp 17.735 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin kompleks.

Menurutnya, salah satu faktor utama berasal dari ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

"Pelemahan mata uang rupiah ini sudah kompleks. Baik dari eksternal maupun internal itu semua berdampak," tutur Ibrahim saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).

Terganggunya distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak dan mendorong penguatan dolar AS.

"Blokade Selat Hormuz ini dampaknya cukup luar biasa terhadap transportasi minyak mentah. Sampai saat ini benar-benar tertutup rapat, sehingga transportasi minyak ini benar-benar buntu dan ini yang membuat permintaan minyak cukup tinggi sehingga harga minyak naik, dolar pun juga ikut mengalami kenaikan," jelasnya.

Baca juga: Dampak Rupiah Ambruk: Harga Pangan Naik, PHK hingga Petani Menjerit

Ibrahim juga menyoroti meningkatnya tensi konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat yang dinilai memperburuk sentimen pasar global.

"Tensi ini sebenarnya yang membuat harga minyak ini terus mengalami kenaikan, apalagi kemarin drone Iran melakukan penyerangan terhadap PLTN di Uni Emirat Arab," ujarnya.

Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memicu inflasi global, sehingga bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Selain faktor eksternal, Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah juga datang dari tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri, terutama untuk impor minyak.

Baca juga: IHSG Jelang Penutupan Anjlok 1,76 Persen Imbas Merosotnya Rupiah ke Posisi Rp 17.718 per Dolar AS

"Kebutuhan minyak, impor minyak Indonesia itu cukup tinggi, 1,5 juta barel per hari. Sedangkan dipatok di APBN itu (dolar) adalah di Rp 16.500 dan minyak dipatok di 70 dolar per barel," ucapnya.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar pemerintah meningkat karena asumsi makro dalam APBN tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini.

Selain itu, musim pembagian dividen perusahaan terbuka juga dinilai turut meningkatkan permintaan dolar AS dari investor asing.

"Masa-masa dividen ini perusahaan-perusahaan yang listing di bursa harus pembagian dividen. Dividen ini kita lihat bahwa asing itu memerlukan dolar," terang Ibrahim.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved