Kisah Wahyudin Menghidupkan Pertanian dan Cari Solusi Atasi Persoalan PETI
Himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang tambang
Ringkasan Berita:
- Wahyudin, sarjana akuntansi asal Desa Kalongliud, memilih kembali ke desa dan memimpin pemuda menghidupkan 35 hektare lahan tidur sebagai alternatif ekonomi untuk mencegah praktik PETI.
- Ia mengembangkan pupuk organik dan irigasi tetes yang menekan biaya hingga 50 persen dan meningkatkan pendapatan 65 persen.
- Inisiatif ini mencatat SROI 4,34, menurunkan kemiskinan desa 6,52 persen, serta mengantarkan Wahyu meraih Environmental and Social Innovation Award (ENSIA)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gelar sarjana akuntansi biasanya mengantarkan seseorang bekerja di gedung-gedung perkantoran di kota besar.
Namun jalan berbeda dipilih Wahyudin, pemuda kelahiran 1988 itu justru kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memilih memegang cangkul dan sepatu bot.
Keputusan pria yang akrab disapa Kang Wahyu ini lahir dari kegelisahan panjang. Bertahun-tahun ia menyaksikan desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Baca juga: Bareskrim Polri Masih Menguji Emas Batangan Kasus Dugaan TPPU Tambang Ilegal, Berapa Lama?
Himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang, mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.
“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).
Bagi Kang Wahyu, jawaban atas krisis itu sesungguhnya berada tepat di bawah kaki mereka sendiri, tanah pertanian yang sempat ditinggalkan.
"Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.
Kegelisahannya sejalan dengan visi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud. Namun Wahyu tidak sekadar menjadi penerima manfaat.
Ia memilih berdiri di garis depan, memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektar lahan terlantar.
Tantangan di lapangan tak sederhana. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas.
Bagi Wahyu, masalah adalah ruang lahirnya inovasi. Berbekal pelatihan dari ANTAM, ia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urin domba.
Langkah tersebut, ditambah pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik, berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50 persen.
Baca juga: IMA Dorong Sinergi Lintas Sektor Berantas Tambang Ilegal
Untuk menjawab krisis air, Wahyu bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Perubahan tak berhenti pada budidaya. Wahyu juga mendobrak ketergantungan petani pada tengkulak.
Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/wahyudin-antam-peti.jpg)