Senin, 13 April 2026

Konsumsi Rumah Tangga 2026 Diprediksi Naik, Tapi Kelas Menengah Justru Melemah

Dengan dinamika tersebut, konsumsi rumah tangga memang berpotensi membaik pada 2026. Namun tanpa pemulihan daya beli kelas menengah yang lebih menguat

Penulis: Lita Febriani
Editor: willy Widianto

Ringkasan Berita:
  • Harapan terhadap penguatan konsumsi rumah tangga pada 2026 memang mulai terlihat.
  • Proyeksi konsumsi rumah tangga tahun ini memang sedikit lebih tinggi dibanding 2025.
  • Efektivitas berbagai inisiatif fiskal pemerintah menjadi faktor penting yang perlu dicermati

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Harapan terhadap penguatan konsumsi rumah tangga pada 2026 memang mulai terlihat. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum cukup solid untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah berbagai stimulus pemerintah menjelang Ramadan, tantangan daya beli masyarakat terutama kelas menengah masih membayangi prospek ekonomi tahun ini.

Baca juga: Kelas Menengah Boncos, Industri Otomotif 2026 Diprediksi Tumbuh Tipis 2-3 Persen

Ekonom Senior sekaligus Pendiri Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, mengatakan proyeksi konsumsi rumah tangga tahun ini memang sedikit lebih tinggi dibanding 2025. Meski begitu, kenaikannya tidak signifikan dan masih tergolong rentan.

“Proyeksi kami di akhir tahun yang lalu bahwa 2026 konsumsi rumah tangga ini sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2025, tetapi tidak terlalu signifikan. Jadi sebenarnya masih rentan dari sisi kalau kita melihat dari sisi konsumsi,” tutur Rini dalam talkshow “Menjaga Stabilitas Harga di Bulan Ramadan” di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, efektivitas berbagai inisiatif fiskal pemerintah menjadi faktor penting yang perlu dicermati. Tahun ini, pemerintah kembali menggulirkan stimulus seperti diskon transportasi untuk mendorong daya beli masyarakat selama Ramadan. Namun, Rini mempertanyakan apakah kebijakan tersebut benar-benar berdampak langsung terhadap peningkatan konsumsi, khususnya sektor pangan.

“Apakah dikasih diskon transportasi itu kemudian akan ada peningkatan konsumsi di sisi pangan? Apakah kemudian akan ada pengalihan konsumsi di pangan,” ujarnya.

Ia mencontohkan kebijakan diskon tarif listrik menjelang Ramadan tahun lalu. Berdasarkan data penjualan ritel, kebijakan tersebut tidak diikuti lonjakan konsumsi, termasuk untuk kebutuhan bahan makanan.

“Tahun lalu pemerintah juga memberikan diskon tarif pada saat menjelang Ramadan, tarif listrik. Ternyata data menunjukkan tidak ada pengalihan konsumsi di sisi pangan. Terbukti data-data dari penjualan ritel itu ternyata pertumbuhannya lebih rendah daripada tahun sebelumnya, tahun 2024,” jelasnya.

Rini menilai, meskipun inflasi relatif stabil, bukan berarti belanja masyarakat otomatis meningkat. Ramadan 2026 tetap perlu diwaspadai dari sisi konsumsi karena struktur daya beli belum sepenuhnya pulih.

Ia juga menyoroti penggelontoran bantuan sosial (bansos) di awal Ramadan. Di satu sisi, bansos membantu kelompok bawah memenuhi kebutuhan dasar. Namun di sisi lain, bantuan tersebut bisa mengurangi kebutuhan membeli tambahan bahan makanan di luar paket bantuan yang diterima.

Baca juga: Pedagang Sambat Daya Beli Terompet Tahun Baru Alami Penurunan

Selain itu, kondisi kelas menengah menjadi tantangan tersendiri. Menurut Rini, pemulihan kelompok ini belum terjadi sepenuhnya. Bahkan, sebagian mengalami penurunan daya beli dan bergeser menjadi “calon kelas menengah”.

“Kelas menengah ini belum akan pulih, tapi ditambah lagi kelas menengah banyak yang turun level menjadi ‘calon kelas menengah’,” ungkapnya.

Ia memperkirakan pada 2026 komposisi belanja konsumsi akan lebih banyak ditopang oleh kelompok calon kelas menengah, dengan porsi sekitar 44 persen. Sementara kontribusi kelas menengah diperkirakan hanya sekitar 37 persen.

“Porsinya lebih banyak pada calon kelas menengah, mungkin sekitar 44 persen. Tapi kelas menengah itu hanya 37 persen,” imbuh Rini.

Dengan dinamika tersebut, konsumsi rumah tangga memang berpotensi membaik pada 2026. Namun tanpa pemulihan daya beli kelas menengah yang lebih kuat, perbaikan itu dinilai belum cukup untuk menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: Kadin Nilai Kelas Menengah Jadi PR Pertumbuhan Ekonomi, Ini Alasannya

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved