Minggu, 12 April 2026

Masyarakat Mulai Panic Buying, Pemerintah Diminta Segera Jelaskan Posisi Stok BBM

Pemerintah disarankan mencari opsi untuk mengimpor BBM dari negara lain selain Amerika Serikat guna menginisiasi cadangan yang habis.

Tribunnews.com/Tribun Medan/Haikal Faried Hermawan
ANTRE BBM - Masyarakat mengantre di sebuah SPBU di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Perintis, Kecamatan Medan Timur, untuk membeli BBM, Jumat (6/3/2026) pagi. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah didesak segera memberikan penjelasan yang komprehensif kepada masyarakat terkait dengan stok BBM di tengah konflik Timur Tengah yang terus berlanjut.
  • Cadangan minyak dunia masih melimpah dan pemerintah harusnya bisa memberikan penjelasan lebih detail yang menenangkan masyarakat.
  • Pemerintah disarankan mencari opsi untuk mengimpor BBM dari negara lain selain Amerika Serikat guna menginisiasi cadangan yang habis.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah didesak segera memberikan penjelasan yang komprehensif kepada masyarakat terkait dengan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Desakan itu digaungkan lantaran beberapa hari belakangan ini, masyarakat di sejumlah daerah sudah mulai ramai-ramai antre membeli BBM karena mendengar isu stok BBM di Indonesia hanya tersisa untuk 21 hari.

"Seharusnya itu otomatis ya Pertamina dan KESDM melakukan komunikasi dengan stakeholder termasuk dengan masyarakat supaya enggak panik," kata pengamat energi Hadi Ismoyo kepada Tribunnewscom, Jumat (5/3/2026).

Menurut Hadi, pemerintah juga masih memiliki banyak waktu untuk menambah stok BBM yang ada saat ini.

Selain melakukan impor dari Amerika Serikat seperti yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI (ESDM) Bahlil Lahadalia, tetapi juga bisa dari negara lain termasuk Venezuela.

Dia menegaskan, stok atau cadangan minyak dunia masih melimpah, sehingga pemerintah harusnya bisa memberikan penjelasan lebih detail yang menenangkan masyarakat.

"Kalau satu hilang masih ada dua lagi yg menggantikannya. Belum masuknya Minyak Venezuela. Artinya stock cukup hanya masalah harga dan spec saja. Tinggal bagaimana memanage alokasi anggaran," kata Hadi.

Hal senada juga disampaikan, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi yang meminta pemerintah untuk bisa memperbaiki cara komunikasi agar tidak menimbulkan panik yang meluas di masyarakat.

Baca juga: Panic Buying Muncul di Tengah Konflik Geopolitik, Pertamina Patra Niaga: Pasokan BBM Aman

Kata dia, pemerintah sudah seharusnya bisa mencari opsi untuk mengimpor BBM dari negara lain selain Amerika Serikat guna menginisiasi cadangan yang habis.

"Jadi pemerintah melalui Bahlil dalam komunikasi publik itu harus benar-benar bisa dipahami oleh rakyat gitu ya. Jadi misalnya kalau 21 hari enggak cukup, apa yang akan dilakukan? Beli Singapura misalnya, beli dari Malaysia sehingga ada satu jaminan itu ya," ucap dia.

Langkah menjadikan Amerika Serikat sebagai importir BBM pengalihan dari Timur Tengah menurut Fahmy, merupakan suatu hal yang kurang efisien.

Pasalnya, masih ada distribusi minyak dari Amerika Serikat terganggu karena ketegangan dengan Iran. Maka dirinya meminta kepada pemerintah untuk mengambil opsi dengan impor dari negara tetangga.

"Kalau hanya apa 21 hari cukup, dari mana dia akan beli atau bahkan mengatakan blunder beli dari Amerika," kata dia.

Baca juga: Kekhawatiran Perang Timur Tengah Picu Antrean BBM di Daerah, Ini Respons Pemerintah-Pertamina

"Nah, dalam kondisi sekarang ini yang paling tepat itu ya dari negara tetangga yang jaraknya itu dekat sehingga risikonya itu juga dapat ditekan. Ya Malaysia, Singapura gitu ya. Singapura memang tidak- bukan negara penghasil minyak itu ya, tapi selama ini dengan berbagai fasilitas yang dimiliki itu menjadi bursa minyak dunia itu ya. Jadi sewaktu-waktu Indonesia bisa beli dari situ meskipun harganya bisa lebih mahal gitu ya," tukas Fahmy.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved