Jumat, 24 April 2026

Gaya Hidup Sehat Meluas, Industri Nutrisi Diprediksi Tumbuh 2 Digit di 2026

Bisnis nutrisi dan wellness di Indonesia diperkirakan tumbuh double digit tahun 2026 ini karena tren adopsi gaya hidup sehat

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Sanusi
Tribunnews.com/HO
TUMBUH DOUBLE DIGIT - Oktrianto Wahyu Jatmiko, Director & General Manager Herbalife Indonesia. Bisnis nutrisi dan wellness di Indonesia diperkirakan tumbuh double digit tahun 2026 ini karena tren adopsi gaya hidup sehat di masyarakat yang makin meluas. 

Ringkasan Berita:
  • Pendapatan sektor industri dari bisnis vitamin dan mineral di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 645 juta dolar AS di 2025 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 6,57 persen.
  • Masyarakat Indonesia tetap membeli produk nutrisi di tengah tekanan ekonomi namun kini menjadi lebih selektif dan menata kembali prioritas pengeluarannya.
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bisnis nutrisi dan wellness di Indonesia diperkirakan tumbuh double digit tahun 2026 ini karena tren adopsi gaya hidup sehat di masyarakat yang makin meluas.

Mengutip proyeksi Statista, pendapatan pasar vitamin dan mineral di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 645 juta dolar AS pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sekitar 6,57 persen.

Kalangan pelaku industri bahkan memperkirakan pertumbuhan tersebut dapat mencapai dua digit pada tahun 2026, sehingga produk nutrisi semakin dipandang sebagai kebutuhan esensial, bukan sekadar produk pelengkap.

Baca juga: Susu Kambing Etawa Kian Dilirik sebagai Nutrisi Alami Pendukung Gaya Hidup Sehat di 2026

Temuan terbaru hasil survei Asia Pacific Responsible Supplementation Survey 2025 yang dilakukan oleh Herbalife pada Juni 2025 mendapati bahwa 92 persen responden di Indonesia menekankan pentingnya layanan kesehatan preventif bagi kesejahteraan dan sudah mengambil langkah nyata untuk meningkatkan kesehatan diri. 

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 88 persen konsumen di Indonesia secara rutin mengonsumsi suplemen kesehatan. Survei ini melibatkan 9.000 responden di 11 pasar kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Oktrianto Wahyu Jatmiko, Director & General Manager Herbalife Indonesia berpendapat, meski sedang menghadapi tekanan ekonomi, masyarakat Indonesia tetap membeli produk nutrisi.

Namun perbedaannya, mereka kini menjadi lebih selektif dan menata kembali prioritas pengeluaran sesuai dengan kebutuhan kesehatan mereka.

“Konsumen Indonesia semakin memiliki pemahaman yang baik mengenai kesehatan, dan hal ini memengaruhi pilihan mereka dalam makanan, vitamin, dan suplemen. Seiring kesehatan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan konsumsi, kami tetap optimistis terhadap pertumbuhan industri ini ke depan,” ujar Oktrianto dalam obrolan dengan media baru-baru ini.

Baca juga: Ini 6 Tren Nutrisi dan Kesehatan yang Diprediksi Mendominasi Tahun 2026

Faktor Demografis Ikut Menentukan

Oktarianto menegaskan, faktor demografis juga memainkan peran penting dalam membentuk dinamika pasar. Meskipun Generasi Z memimpin dari sisi volume dan adopsi tren, nilai pengeluaran tertinggi masih berasal dari kelompok usia produktif yang memiliki daya beli lebih besar. Kombinasi ini mendorong pertumbuhan pasar baik dari sisi volume maupun nilai.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan populasi Generasi Z di Indonesia akan mencapai 74,93 juta jiwa atau sekitar 27,94 persen dari total populasi pada tahun 2025. Bersama dengan generasi milenial, Gen Z—yang merupakan pengguna internet dan media sosial paling aktif—menjadi pendorong utama tren konsumsi nutrisi secara digital.

Pihaknya melihat ada tren partisipasi yang kuat dari generasi muda. Dia mencontohkan, member independen Herbalife di Indonesia didominasi Gen Z dan generasi yang lebih muda, yang populasinya mencapai 62,4 persen dari total anggota.

Menurut dia, model bisnis penjualan langsung dinilai menarik bagi generasi muda, tidak hanya sebagai platform untuk mempromosikan gaya hidup sehat, tetapi juga sebagai peluang memperoleh penghasilan.

Dia juga menegaskan, era digital commerce dan social commerce—terutama di pasar seperti Indonesia, ternyata platform digital tidak menggantikan penjualan langsung, tapi justru memperkuatnya.

"Meskipun platform digital memperluas jangkauan dan meningkatkan efisiensi, koneksi antarmanusia tetap menjadi faktor pembeda utama," ungkap Oktarianto.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved