Senin, 8 Juni 2026

Industri Manufaktur Ancang-ancang Naikkan Harga Atasi Pelemahan Rupiah

Industri manufaktur berancang-ancang menaikkan harga jual untuk mengantisipasi tren pelemahan rupiah.

Tayang:
Editor: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ANTISIPASI PELEMAHAN RUPIAH - Pengunjung melihat mesin tekstil dalam pameran Indo Intertex Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Industri manufaktur berancang-ancang menaikkan harga jual untuk mengantisipasi tren pelemahan rupiah yang kini menembus di atas Rp18.000 per dolar AS. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 
Ringkasan Berita:
  • Industri manufaktur berancang-ancang menaikkan harga jual untuk mengantisipasi tren pelemahan rupiah.
  • Dalam kondisi nilai tukar yang terus tertekan, tidak semua industri dapat memperoleh fasilitas lindung nilai dari perbankan. 
  • Pada Senin pukul 10.24 WIB, rupiah terus melemah dan bertengger di level Rp 18.163 per dolar AS.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri manufaktur berancang-ancang menaikkan harga jual untuk mengantisipasi tren pelemahan rupiah yang terjadi terus-menerus saat ini.

Nilai tukar rupiah terus melemah dan Senin awal pekan ini, 8 Juni 2026 menembus Rp18.129,50 per dolar AS di pasar spot. Pada Senin pukul 10.24 WIB, rupiah terus melemah dan bertengger di level Rp 18.163 per dolar AS.

Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang masa. Kendati sebelumnya pelaku industri masih mampu menahan kenaikan harga jual berkat kontrak lindung nilai (hedging), ruang gerak tersebut kini semakin terbatas. 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, kemampuan perusahaan melakukan hedging berbeda-beda.

Dalam kondisi nilai tukar yang terus tertekan, tidak semua industri dapat memperoleh fasilitas lindung nilai dari perbankan.

"Beberapa industri akan sulit melakukan hedging. Hanya industri yang ekspornya masih bagus yang biasanya masih mendapatkan approval hedging dari bank. Bahkan mereka secara natural mendapatkan dolar AS dari hasil penjualan ekspor," ujar Redma dikutip Kontan, Senin (8/6/2026). 

Sebaliknya, industri yang berorientasi pada pasar domestik menghadapi tekanan yang lebih besar karena perusahaan tetap harus membeli bahan baku impor dengan kurs yang lebih mahal, sementara pendapatannya diperoleh dalam rupiah.

Baca juga: Rupiah Makin Ambles Pagi Ini, Pengamat Prediksi Bisa Tembus Rp 19.000

Menurut Redma, pelemahan rupiah saat ini sesungguhnya sudah melampaui batas toleransi industri. Ia mencatat sejak awal tahun nilai tukar rupiah telah melemah hampir 8 persen.

"Ini sebetulnya sudah di luar batas toleransi karena dari awal tahun sudah melemah hampir 8 persen," katanya.

Tekanan kurs tersebut juga meningkatkan peluang terjadinya kenaikan harga jual ke konsumen dalam waktu dekat. Sebelumnya, industri telah menaikkan harga sekitar 15 persen akibat lonjakan harga bahan baku yang dipicu konflik geopolitik dan perang di sejumlah kawasan.

Meski selama beberapa waktu terakhir pelaku usaha masih menahan harga di tengah pelemahan kurs, Redma menilai kondisi saat ini sulit dipertahankan apabila rupiah terus berada di level yang rendah.

"Harga di tingkat konsumen sebelumnya sudah naik sekitar 15 persen akibat harga bahan baku sebagai efek perang. Meskipun kemarin tidak ada kenaikan dari imbas nilai tukar, dengan pelemahan yang signifikan ini sudah hampir pasti harga akan kembali dinaikkan lagi," ujarnya.

Ia menegaskan, langkah penyesuaian harga bukan dilakukan untuk meningkatkan keuntungan, melainkan agar industri tetap dapat bertahan menghadapi lonjakan biaya produksi. "Ini dilakukan hanya untuk bertahan saja," kata Redma.

Laporan Reporter: Diki Mardiansyah | Sumber: Kontan

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved