Laporan The Economist Sebut RI Lebih Stabil Hadapi Krisis Energi, Pakar: Tapi Masyarakat Harus Bijak
Laporan The Economist menempatkan Indonesia sebagai negara dengan posisi lebih kuat dibanding sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Vietnam
Ringkasan Berita:
- Laporan The Economist menilai ketahanan energi Indonesia lebih kuat dibanding Vietnam.
- Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu, menegaskan bahwa meski kondisi relatif stabil, masyarakat tetap harus bijak menggunakan energi.
- Badan Energi Internasional (IEA) juga menyarankan langkah antisipasi seperti menurunkan permintaan energi, bekerja dari rumah, dan beralih ke kompor listrik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketahanan energi Indonesia belakangan ini mendapat perhatian dari dunia internasional.
Laporan terbaru The Economist menempatkan Indonesia sebagai negara dengan posisi lebih kuat dibanding sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Vietnam.
The Economist adalah majalah mingguan internasional yang berbasis di London, Inggris, dan dikenal luas sebagai salah satu publikasi paling berpengaruh di dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan hubungan internasional.
The Economist menyajikan analisis mendalam, laporan berbasis data, serta opini editorial mengenai isu-isu global, mulai dari kebijakan ekonomi, geopolitik, teknologi, hingga budaya.
Baca juga: DPR: Percepatan Pengembangan Blok Masela Penting untuk Ketahanan Energi Nasional
Dengan gaya penulisan yang ringkas, tajam, dan berbasis bukti, The Economist sering dijadikan rujukan oleh akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis untuk memahami tren serta dinamika global yang sedang berlangsung.
Penilaian The Economist
Laporan terbaru The Economist memang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi yang relatif lebih kuat dibanding Vietnam.
Dalam analisisnya, Indonesia digolongkan ke dalam kategori low exposure, strong buffer, yaitu negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan kebijakan energi yang kokoh.
Hal ini membuat Indonesia dianggap lebih aman dari dampak krisis energi global, terutama di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Penilaian tersebut didasarkan pada kombinasi sumber daya energi domestik yang cukup besar serta kebijakan diversifikasi energi yang dijalankan pemerintah, mulai dari pengembangan energi baru dan terbarukan hingga dorongan penggunaan kendaraan listrik.
Dibandingkan Vietnam yang lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global, Indonesia dinilai memiliki skor ketahanan energi lebih tinggi dan posisi strategis yang lebih stabil.
Meski demikian, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Hamid Paddu, mengingatkan agar masyarakat tetap bijak dalam menggunakan energi, terutama menghadapi potensi dampak geopolitik jangka pendek.
Hamid menilai, laporan tersebut sejalan dengan kondisi nyata di dalam negeri. Indonesia dinilai memiliki stabilitas energi yang relatif aman, sehingga tidak terlalu terpapar risiko besar jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KETAHANAN-ENERGI-First-Gas-In-LPG-Plant-Cilamaya-2352.jpg)