Ancaman Krisis Energi
Akademisi Minta Wacana WFH untuk Efisiensi Energi Diawasi Ketat: Jangan Sampai Jadi Liburan
Ekonom Telisa Aulia Falianty menyoroti soal wacana pemerintah yang akan menerapkan kebijakan Work From Home demi menekan konsumsi BBM di masyarakat.
Ringkasan Berita:
- Akademisi meminta kebijakan Work From Home (WFH) demi menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh masyarakat diawasi ketat agar kebijakan tersebut benar-benar efektif.
- Pengawasan perlu dilakukan agar masyarakat benar-benar mengerjakan pekerjaan dari rumah, bukan justru memanfaatkan WFH untuk momen berpergian.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty menyoroti wacana pemerintah yang akan menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) demi menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh masyarakat.
Telisa mengatakan, kebijakan tersebut sejatinya bagus untuk diterapkan, asal diawasi secara ketat agar tujuan menekan penggunaan BBM benar-benar terlaksana.
"Harus ada pengawasan (kebijakan WFH tersebut)," kata Telisa kepada Tribunnewscom, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Telisa, pengawasan perlu dilakukan agar masyarakat benar-benar mengerjakan pekerjaannya dari rumah, bukan justru memanfaatkan WFH untuk momen berpergian.
Kalau hal tersebut terjadi, kata Telisa, yang ada justru penggunaan terhadap BBM tetap tinggi karena tidak adanya penghematan energi yang dilakukan dari sektor rakyat.
"Karena bisa jadi (karena) WFH ada possibility liburan, wisata, jalan-jalan sama aja tidak hemat BBM," ucap dia. Telisa juga mendorong dilakukannya realokasi anggaran oleh pemerintah untuk subsidi BBM.
Kata dia, terhadap program kerja yang memiliki anggaran jumbo seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara bisa dialihkan ke kebutuhan energi.
"Nah program prioritas yang ada, yang besar-besar, itu memang harus lebih dikaji mana yang lebih bisa direalokasi. Walaupun tidak semua, mungkin sepuluh persennya saja yang direalokasi. Artinya tidak mengganggu kepada tujuan prioritas nasional," ucap dia.
Baca juga: Anwar Ibrahim Perintahkan ASN Malaysia Bekerja dari Rumah Mulai 15 April
Telisa lantas menyinggung agar pemerintah cermat dalam membuat kebijakan nantinya demi menjaga fiskal dalam negeri tetap aman.
Kalaupun harus menempuh menaikkan subsidi BBM, dia berharap upaya tersebut ditempuh di paling akhir, setelah seluruh opsi sudah dilakukan.
"Jadi harus ketemu win-win-nya. Soalnya kalau yang ini nggak mau ngalah, itu nggak mau ngalah, ya susah juga kan, sedangkan kita tetap harus menyelamatkan APBN kita," ucap dia.
"Dan kemudian harapannya ini temporer sehingga opsi menaikkan harga, sekali lagi, adalah opsi yang terakhir kalau saya lihat seperti itu sih," tandas Telisa.
Diketahui, konflik di Timur Tengah yang menyebabkan Iran menutup jalur distribusi minyak mentah dunia, Selat Hormuz, berpotensi menyebabkan krisis energi global.
Beberapa negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, Kamboja hingga Filipina sudah merespons dengan menaikkan harga BBM.
Baca juga: Ketua DPR Minta WFH ASN Tiap Jumat Dievaluasi Berkala
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-aparatur-sipil-negara.jpg)