Kamis, 16 April 2026

Siaga Hadapi Kemarau, PTPN IV PalmCo Perkuat Deteksi Dini Karhutla  hingga Strategi Agronomi 

PTPN IV PalmCo, Subholding  Perkebunan Nusantara menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini. 

Penulis: Erik S
Editor: Sanusi
Tribunnews.com/HO
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan, perusahaan memilih mengambil pendekatan konservatif dengan menyiapkan mitigasi sejak dini terkait kondisi kemarau. 

Ringkasan Berita:
  • PTPN IV PalmCo menetapkan siaga, menggunakan teknologi AI memantau karhutla serta memperkuat infrastruktur dan kesiapan tim lapangan.
  • Kemarau berpotensi menurunkan produktivitas sawit, sehingga perusahaan menerapkan strategi adaptif menjaga kelembaban, air, dan kesehatan tanaman.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PTPN IV PalmCo, Subholding  Perkebunan Nusantara menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini. 

Wacana kemarau ekstrem yang belakangan populer dengan sebutan 'El Nino Godzilla' memicu kewaspadaan berbagai pihak, termasuk pelaku industri perkebunan.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan, perusahaan memilih mengambil pendekatan konservatif dengan menyiapkan mitigasi sejak dini. 

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Kesiapsiagaan tetap kami jalankan seolah menghadapi skenario terburuk,” kata Jatmiko, Selasa (31/3/2026), di Jakarta.

Salah satu fokus utama adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang kerap menjadi dampak paling merugikan saat kemarau panjang melanda wilayah perkebunan, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. 

Menurut Jatmiko, pendekatan penanganan kini bergeser dari responsif menjadi preventif. Perusahaan mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama ARFINA (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara) untuk memantau potensi kebakaran secara real time. 

“Sistem ini membantu kami mendeteksi titik panas lebih awal, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum api meluas,” ujarnya. 

Namun, ia menekankan, teknologi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Setiap peringatan dari sistem akan langsung ditindaklanjuti oleh tim yang siaga di wilayah operasional. 

Selain itu, perusahaan juga memperkuat infrastruktur pendukung, seperti pembangunan embung dan sekat kanal di area rawan kekeringan. Upaya ini dilengkapi dengan kolaborasi bersama aparat TNI dan Polri dalam kegiatan patroli serta aksi tanggap darurat karhutla. 

Di sisi lain, ancaman kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebakaran, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas tanaman. Jatmiko menjelaskan, kekeringan berkepanjangan dapat memicu berbagai risiko, mulai dari gangguan pertumbuhan tanaman hingga penurunan hasil produksi. 

“Kemarau panjang membawa efek domino, seperti potensi ledakan hama, kekeringan tanah, hingga penurunan rendemen. Ini harus diantisipasi secara menyeluruh,” katanya. 

Baca juga: Mentan Tegaskan Kondisi Pangan Indonesia Siap Hadapi Musim Kemarau Ekstrem El Nino Godzilla

Perhatian khusus diberikan pada tanaman belum menghasilkan (TBM), yang dinilai lebih rentan terhadap stres air karena sistem perakarannya belum optimal. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memengaruhi keberhasilan investasi jangka panjang perusahaan. 

Selain itu, perubahan kondisi lingkungan akibat kekeringan juga berpotensi meningkatkan populasi hama, seperti hewan pengerat dan serangga, yang mencari sumber makanan baru di area perkebunan. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved