Potensi Logam Tanah Jarang Besar, Tambang Ilegal Jadi Ancaman Serius
Rare earth saat ini menjadi komoditas strategis yang diperebutkan di tingkat internasional, terutama untuk kebutuhan industri pertahanan
Ringkasan Berita:
- Potensi logam tanah jarang Indonesia kian strategis di tengah lonjakan permintaan global, terutama untuk industri teknologi dan energi bersih
- Namun, praktik tambang ilegal dan penyelundupan masih menjadi ancaman serius terhadap optimalisasi nilai tambah dalam negeri
- Pemerintah memperketat pengawasan agar sumber daya dimanfaatkan untuk kepentingan nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Potensi sumber daya alam Indonesia, khususnya logam tanah jarang (rare earth), kian menjadi sorotan global di tengah meningkatnya kebutuhan industri berteknologi tinggi.
Namun, peluang besar tersebut dibayangi praktik tambang ilegal dan penyelundupan yang berisiko merugikan kepentingan nasional.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengungkapkan adanya indikasi hasil tambang Indonesia yang keluar secara ilegal dan kemudian diolah di luar negeri menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Salah satu komoditas yang disorot adalah logam tanah jarang (LTJ).
"Rare earth saat ini menjadi komoditas strategis yang diperebutkan di tingkat internasional, terutama untuk kebutuhan industri pertahanan," katanya dikutip, Senin (6/4/2026).
Ia bahkan menyinggung kemungkinan material asal Indonesia digunakan dalam konflik global tanpa disadari.
Maroef mengakui bahwa sebelum pembentukan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), praktik pemanfaatan hasil tambang Indonesia oleh pihak asing kerap terjadi tanpa pengawasan optimal.
Beberapa wilayah seperti Bangka Belitung disebut menjadi contoh kasus yang diduga mengalami kebocoran sumber daya.
Namun, dengan penguatan pengawasan melalui Satgas PKH, pemerintah kini berupaya memastikan hasil tambang dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan domestik.
Pengawasan juga mencakup jalur distribusi lintas negara, termasuk ke Singapura yang selama ini menjadi salah satu titik perdagangan mineral.
Di sisi lain, prospek permintaan rare earth global menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Baca juga: Perkuat Hilirisasi Mineral, PT Timah Meriset Logam Tanah Jarang
Data dari International Energy Agency mencatat permintaan magnet rare earth hampir dua kali lipat dalam satu dekade sejak 2015, mencapai lebih dari 90 kiloton pada 2024.
Permintaan tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga melampaui 120 kiloton pada 2030 dan menembus 180 kiloton pada 2050, didorong oleh ekspansi kendaraan listrik dan energi terbarukan seperti turbin angin.
Dalam rantai pasok global, China masih mendominasi dengan pangsa sekitar 57 persen pada 2024.
Meski demikian, dominasi tersebut diperkirakan menurun menjadi sekitar 50% pada 2050 seiring masuknya pemain baru seperti Amerika Serikat dan kawasan Uni Eropa.
Dengan cadangan tanah jarang yang melimpah, Indonesia berada pada posisi strategis untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global.
Mengacu pada data Kementerian ESDM, potensi LTJ tersebar di berbagai wilayah, baik sebagai mineral utama maupun produk sampingan dari pengolahan mineral lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/LOGAM-TANAH-JARANG-Potensi-logam-tanah-jarang.jpg)