Gaji Pas-pasan, Kelas Menengah Kini Terpaksa Cari Kerja Sampingan demi Bertahan Hidup
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam ambisi menjadi negara maju. Indikator utamanya terlihat pada kondisi kelas menengah yang kian terhimpit
Ringkasan Berita:
- Proporsi kelas menengah Indonesia merosot signifikan dari 21,5 persen (2019) menjadi 16,9 persen (2024), sementara kelompok menuju kelas menengah membengkak hingga 48,8 persen.
- Menghadapi ketidakpastian ekonomi, kelas menengah kini beralih ke strategi bertahan hidup dengan mencari pekerjaan sampingan dan mulai memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas.
- Meski jumlahnya menyusut, kelas menengah tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan menyumbang 81,5 persen dari total konsumsi rumah tangga.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia menghadapi tantangan besar dalam ambisi menjadi negara maju pada 2045.
Indikator utamanya terlihat pada kondisi kelas menengah yang kian terhimpit.
Berdasarkan data terbaru, proporsi kelompok penyokong ekonomi ini terus merosot, memicu kekhawatiran terhadap struktur ekonomi nasional di masa depan.
Hasil riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 mengungkapkan tren penurunan yang cukup signifikan.
Merujuk data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), jumlah kelas menengah yang pada 2019 masih berada di angka 21,5%, kini menyusut menjadi 16,9% pada 2024.
Sebaliknya, kelompok "Menuju Kelas Menengah" (aspiring middle class) justru membengkak hingga 48,8%.
Padahal, Bappenas menargetkan proporsi kelas menengah harus menyentuh 70% jika Indonesia ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan menjadi negara maju.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Regulasi Penyediaan Rusun untuk Masyarakat Kelas Menengah
Kunci Perekonomian yang Terluka
Padahal, peran kelas menengah sangat krusial.
Pada 2024 saja, kelompok ini menyumbang 81,5?ri total konsumsi rumah tangga nasional.
Mengingat konsumsi rumah tangga adalah motor utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (berkontribusi 58,8%), maka melemahnya daya beli kelompok ini dapat melumpuhkan pertumbuhan ekonomi secara luas.
"Kelas menengah adalah kunci perubahan negara dan masyarakat," ujar Metta Dharmasaputra, Co-founder & CEO Katadata Indonesia, dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026 di Djakarta Theatre, Rabu (15/4/2026).
Strategi Bertahan: Kerja Sampingan dan AI
Temuan menarik dalam riset tersebut memotret bagaimana kelas menengah kini tidak lagi bisa mengandalkan satu sumber pendapatan.
Fenomena memiliki pekerjaan sampingan (side hustle) bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan "jaring pengaman" untuk menghadapi ketidakpastian.
"Bagi kelas menengah, satu sumber pendapatan tidak lagi cukup memberikan kepastian. Pekerjaan sampingan menjadi lapisan pengaman agar mereka tetap adaptif," ungkap Ivan Triyogo Priambodo, Vice President Finance & Business Development Katadata.
Selain mencari cuan tambahan, masyarakat kelas menengah juga mulai mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak.
Mereka kini lebih mementingkan nilai produk (value) ketimbang sekadar harga murah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pembukaan-acara-IDE-Katadata-Future-Forum-2026.jpg)