Kamis, 9 April 2026

Harga Saham

IHSG Ditutup Merosot ke Level 6.989, Ada 437 Saham Melemah

Transaksi mencapai Rp15,22 triliun, dengan top losers DSSA dan BREN, sementara AMMN dan BUMI menguat.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG MELEMAH - Pengunjung mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG ditutup anjlok 0,53 persen atau 37,35 poin ke level 6.989,43 dari posisi penutupan pekan kemarin 7.026,78. 
Ringkasan Berita:
  • IHSG ditutup turun 0,53 persen ke 6.989,43 dan kembali berada di bawah level 7.000.
  • Sebanyak 437 saham melemah, hanya 264 saham menguat, sisanya stagnan.
  • Transaksi mencapai Rp15,22 triliun, dengan top losers DSSA dan BREN, sementara AMMN dan BUMI menguat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (6/3/2026) berakhir meninggalkan level 7.000.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup anjlok 0,53 persen atau 37,35 poin ke level 6.989,43 dari posisi penutupan pekan kemarin 7.026,78.

Ada 264 saham menguat, 437 saham melemah, 257 saham stagnan.

Baca juga: IHSG Anjlok, Tinggalkan Level 7.000

Adapun nilai transaksi mencapai Rp15,22 triliun dengan melibatkan 27,79 miliar lembar saham.

Top losers di LQ45 adalah:

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 9,34 persen ke Rp 63.800 per saham
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 9,17 persen ke Rp 4.360 per saham
  • PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) 4,98 persen ke Rp 1.240 per saham

Top gainers di LQ45 yakni:

  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 6,91 persen ke Rp 5.025 per saham
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 6,14 persen ke Rp 242 per saham
  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 5,08 persen ke Rp 1.345 per saham

Sentimen Geopolitik di Timur Tengah

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen global yang kembali memburuk, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

“Tekanan jual, khususnya dari investor asing, masih cukup dominan. Sentimen utamanya masih datang dari faktor global, terutama soal geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya dikutip dari Kontan.

Ia menjelaskan, sempat muncul optimisme setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut konflik berpotensi segera berakhir. Namun, pernyataan terbaru justru bernada lebih agresif, sehingga memicu kembali mode risk-off di pasar.

Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah, yang turut menekan sentimen pasar global.

Dari domestik, kebijakan pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong efisiensi dinilai cukup tepat dalam meredam dampak kenaikan harga energi. Namun, pasar mulai mencermati potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, data ekonomi yang dirilis juga menunjukkan kondisi yang cenderung beragam. Surplus neraca perdagangan masih tercatat, namun mengalami penurunan secara tahunan.

Sementara itu, inflasi yang mulai melandai di satu sisi menjadi sentimen positif, tetapi juga mencerminkan moderasi daya beli masyarakat.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved