Bank Dunia Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia, Eric Hermawan Tekankan Fundamental Domestik
Bank Dunia turunkan proyeksi ekonomi RI jadi 4,7% di 2026, DPR tekankan fundamental domestik tetap kuat.
Ringkasan Berita:
- Bank Dunia revisi proyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 dari 4,8 persen menjadi 4,7% karena tekanan global.
- DPR menilai fundamental domestik berbasis konsumsi rumah tangga masih kuat dan mampu meredam risiko.
- Pemerintah optimistis pertumbuhan bisa melampaui proyeksi, dengan dukungan belanja negara dan stabilitas keuangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bank Dunia (World Bank) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2025 sebesar 4,8 persen.
Penyesuaian ini mencerminkan tekanan eksternal yang meningkat, terutama akibat kenaikan harga energi global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Revisi tersebut menandakan adanya risiko perlambatan ekonomi yang dipicu oleh volatilitas harga komoditas dan perubahan sentimen investor.
Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, menilai proyeksi tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka analisis yang lebih komprehensif.
Menurutnya, pendekatan lembaga internasional cenderung berbasis asumsi global agregat, sehingga berpotensi kurang merefleksikan karakteristik struktural perekonomian Indonesia yang berbasis konsumsi domestik.
Eric menegaskan sejumlah indikator makroekonomi domestik menunjukkan resiliensi yang cukup kuat.
Proyeksi pertumbuhan triwulan I 2026 yang diperkirakan dapat melampaui 5,6 persen mengindikasikan bahwa permintaan domestik, stabilitas sektor keuangan, serta keberlanjutan belanja pemerintah masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan bahwa transmisi tekanan global terhadap perekonomian Indonesia relatif lebih terbatas dibandingkan negara dengan ketergantungan tinggi terhadap sektor eksternal.
Hal ini disebabkan oleh kontribusi konsumsi rumah tangga yang dominan dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga mampu meredam dampak kontraksi dari sisi eksternal.
Namun, Eric mengingatkan bahwa revisi proyeksi dari lembaga internasional memiliki implikasi terhadap ekspektasi pasar dan persepsi risiko investor. Oleh karena itu, diperlukan penguatan komunikasi kebijakan berbasis data guna menjaga kredibilitas dan stabilitas makroekonomi.
“Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap narasi ekonomi didukung oleh fundamental yang kuat dan indikator yang terukur. Dengan demikian, stabilitas ekspektasi pasar dapat terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan,” tegas Eric kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Harga Solar Industri Naik, Gapensi Minta Penyesuaian Harga Proyek Pemerintah
Respons Pemerintah
Merespons hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penurunan proyeksi tidak lepas dari ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik.
Ia menekankan bahwa proyeksi Indonesia masih di atas rata-rata global.
“Kalau kita lihat angka itu juga masih di atas pertumbuhan rata-rata global di 3,4 persen,” ujar Airlangga kepada awak media di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik proyeksi Bank Dunia yang dinilai terlalu pesimistis terkait harga minyak global.
Ia menilai perhitungan tersebut keliru dan berpotensi menimbulkan sentimen negatif.
“World Bank salah hitung. Kuartal pertama saja mungkin 5,6 atau lebih,” kata Purbaya di Kementerian Keuangan.
Pemerintah menegaskan optimisme terhadap kinerja ekonomi domestik, dengan keyakinan bahwa realisasi pertumbuhan dapat melampaui proyeksi lembaga internasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bank-dunia-catat-ekonomi-ri-51-persen-hingga-2026_20240626_204146.jpg)