Iran Vs Amerika Memanas
Ini Penyebab Harga Emas Tak Selalu Melonjak Saat Terjadi Perang
Harga emas turut dipengaruhi pergerakan harga energi, karena saat terjadi perang di kawasan Timur Tengah harga minyak dunia melonjak.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergerakan harga emas naik turun di tengah perang di kawasan Timur Tengah antara Israel-Amerika Serikat Vs Iran.
Tercatat harga emas dunia di pasar spot di kisaran 4.837,8 dolar AS per troy ons.
Sedangkan emas Antam hari ini dihargai Rp 2.893.000 per gram, di mana sebelumnya pernah menyentuh level Rp3 jutaan per gram.
Baca juga: Harga Emas Bertahan Tinggi, Freeport Targetkan Produksi 26 Ton Tahun Ini
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya mengatakan, emas merupakan salah satu safe haven (aset aman), tetapi tidak selalu naik saat terjadi perang.
Menurutnya, harga emas turut dipengaruhi pergerakan harga energi, karena saat terjadi perang di kawasan Timur Tengah harga minyak dunia melonjak.
"Negara yang memiliki pasokan emas tinggi akan menjual emasnya di pasar agar cashflownya dalam jumlah besar untuk membeli energi, sehingga harga emas turun," papar Yazid, Rabu (15/4/2026).
Diketahui harga minyak dunia sejak perang AS-Iran terus melonjak, bahkan sempat menembus 100 dolar AS per barel dan kini dikisaran 97 dolar AS per dolar AS.
Menurutnya, meski harga emas turun, tetapi secara jangka panjang komoditas tersebut mengalami kenaikan karena merupakan aset yang paling aman.
"Kalau ada koreksi, itu hanya bersifat sementara. Secara historis juga bisa dilihat, dari dulu emas walau ada koreksi akibat krisis, perang, tapi tetap naik jangka panjang," paparnya.
Di sisi lain, Yazid pun mengimbau investor yang bertransaksi komoditas emas di Bursa Berjangka Jakarta agar dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan keuangannya.
"Kadang-kadang orang melihat emas bagus, lalu semua uangnya dimasukkan (trading), ketika turun, uangnya habis. Harusnya misal punya Rp10 juta, digunakan 10 persen saja untuk transaksi," paparnya.
Volatilitas Global Meningkat
Yazid menyampaikan, di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, pelaku pasar semakin membutuhkan instrumen yang mampu memberikan perlindungan terhadap risiko sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
“Dalam kondisi pasar yang semakin tidak pasti, kebutuhan terhadap mekanisme lindung nilai menjadi semakin relevan. Perdagangan berjangka hadir sebagai instrumen yang transparan, terstandarisasi, dan mendukung pembentukan harga yang kredibel di pasar,” ujar Yazid.
Sejalan dengan itu, PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) juga terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang lebih transparan, terawasi, dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi seluruh pelaku pasar.
Dari sisi kinerja, sejumlah produk unggulan JFX menunjukkan kontribusi signifikan terhadap aktivitas perdagangan.
Pada sektor komoditas fisik, JFX menguasai lebih dari 95 persen pangsa pasar ekspor timah Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS pada 2025.
Sementara itu, pada perdagangan derivatif, kontrak olein (OLE01) mencatat kontribusi sebesar 38,7?ri total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX atau setara dengan 615.028 lot.
Di sisi lain, kontrak Loco Gold juga mendominasi aktivitas transaksi OTC dengan porsi mencapai 85,2?ri total volume.
Ia menyebut, JFX juga mengembangkan perdagangan emas digital yang menggabungkan kemudahan transaksi berbasis digital dengan kepastian underlying emas fisik.
"Sehingga memberikan keseimbangan antara aksesibilitas dan keamanan bagi investor," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Direktur-Utama-PT-Bursa-Berjangka-Jakarta-JFX-Yazid-Kanca-Surya-9.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.