Harga BBM Naik
Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS, DPR Ingatkan Pentingnya Sinergi Menteri Jaga Harga BBM Subsidi
Rupiah tembus Rp17.100! DPR ingatkan risiko ekonomi global dan apresiasi janji menteri jaga harga BBM subsidi tak naik hingga akhir tahun.
Ringkasan Berita:
- Anggota DPR Eric Hermawan mengingatkan pentingnya koordinasi antar-kementerian demi menjaga stabilitas perekonomian nasional saat ini.
- Kurs Rupiah yang menembus level psikologis Rp17.100 menjadi indikator utama meningkatnya risiko fiskal ekonomi Indonesia.
- DPR mengapresiasi jaminan menteri bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan sampai akhir tahun.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Perekonomian nasional kini berada dalam tekanan ganda akibat gejolak global dan tantangan domestik.
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Eric Hermawan, mengingatkan pentingnya sinkronisasi kebijakan antar-kementerian untuk menjaga stabilitas pasar, terutama saat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan.
Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.189 per Dolar AS menjadi sinyal kewaspadaan bagi ketahanan ekonomi.
Eric menekankan bahwa pergerakan kurs bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator tingkat kepercayaan pasar.
"Nilai tukar bukan sekadar angka, melainkan indikator kepercayaan pasar terhadap daya tahan ekonomi nasional," ujar legislator dari Fraksi Partai Golkar tersebut dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Sinergi Fiskal-Energi Redam Gejolak
Di tengah risiko fiskal atau potensi kerugian keuangan negara yang meningkat, Eric menyoroti koordinasi antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Sinergi kedua lembaga ini dinilai krusial dalam menjaga agar harga energi, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, tetap terkendali.
"Janji Menteri ESDM bahwa BBM subsidi hingga akhir tahun tidak mengalami kenaikan sudah menenangkan rakyat di bawah," ungkap Eric.
Kepastian harga energi dianggap sebagai kunci agar daya beli masyarakat tidak terganggu oleh krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Baca juga: Bahlil Singgung Pengendara Motor Bolak-balik SPBU Beli Pertalite: Cari Rezeki Jangan Begitu
Kritik Strategi 'Ngebor ke Dalam'
Meski koordinasi lintas sektor mulai terlihat, Eric memberikan catatan kritis terhadap efisiensi struktural pemerintah.
Ia menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai strategi "Ngebor ke Dalam", yaitu langkah agresif pemungutan pajak yang masif tanpa dibarengi dengan efisiensi di internal birokrasi pemerintah.
Menurutnya, strategi tersebut menciptakan paradoks kebijakan—situasi yang seolah bertentangan—bagi masyarakat.
"Pemerintah menuntut lebih banyak dari rakyat di tengah menurunnya kualitas pelayanan dan eksekusi krisis," tegasnya.
Eric juga mencermati tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai barometer sentimen investor.
Ia mendesak para menteri untuk lebih konsisten menerjemahkan visi Presiden ke dalam kebijakan operasional yang tidak kontradiktif, guna memperkuat daya tahan ekonomi nasional dari ketidakpastian global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Anggota-Komisi-XI-DPR-RI-Eric-Hermawan-memaparkan-kondisi-ekonomi-nasional.jpg)