Sabtu, 25 April 2026

Kontribusi Manufaktur terhadap PDB Meningkat, Bukti Struktur Ekonomi Semakin Kokoh

Sektor industri manufaktur nasional terbukti solid, resilien, serta tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi

Editor: Sanusi
HO
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif. 

Ringkasan Berita:
  • Industri manufaktur Indonesia mencatat tren positif Q1-2026 dengan investasi Rp418,62 triliun dan penyerapan tenaga kerja 219 ribu orang.
  • Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus meningkat, menegaskan perannya sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa kinerja sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif berdasarkan data dan perkembangan terkini.

Sektor industri manufaktur nasional terbukti solid, resilien, serta tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, dan ketidakpastian pasar internasional.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief menyampaikan, industri manufaktur Indonesia terus memperlihatkan daya tahan tinggi serta kemampuan beradaptasi menghadapi tekanan global.

“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” ujar Febri di Jakarta, Jumat (24/4).

Baca juga: Kemenperin Tegaskan Investasi Otomotif Terbuka untuk Semua Negara

Ia menjelaskan, pada tahun 2025 industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, kontribusi sektor industri manufaktur (industri pengolahan) terhadap total PDB Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam periode Triwulan II 2022 sampai Triwulan IV 2025. Pada Triwulan II 2022, kontribusi manufaktur tercatat sebesar 17,92 persen dari total PDB nasional. Setelah itu, porsi manufaktur secara umum terus menguat, meskipun mengalami fluktuasi musiman antartriwulan.

Memasuki tahun 2023, kontribusi manufaktur mulai bergerak naik dari 18,26% pada Triwulan II 2023 menjadi 19,08% pada Triwulan IV 2023. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur semakin berperan sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.

Pada tahun 2024, tren penguatan berlanjut dengan kontribusi mencapai 19,13% pada Triwulan IV 2024, lebih tinggi dibanding posisi akhir tahun sebelumnya. Bahkan pada Triwulan I 2024, kontribusi sempat menyentuh 19,28%, yang menjadi salah satu level tertinggi selama periode pengamatan.

Baca juga: Geopolitik Tekan Harga Plastik, Kemenperin Pacu Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan

Selanjutnya pada tahun 2025, kontribusi sektor manufaktur tetap terjaga pada level tinggi. Setelah berada di 18,67% pada Triwulan II 2025, kontribusi meningkat menjadi 19,15% pada Triwulan III 2025 dan kembali naik ke 19,20% pada Triwulan IV 2025.

Secara keseluruhan, jika dibandingkan antara Triwulan II 2022 (17,92%) dan Triwulan IV 2025 (19,20%), maka kontribusi PDB industri manufaktur meningkat sekitar 1,28 poin persentase. Hal ini menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur semakin memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dan motor pertumbuhan ekonomi nasional.
 
Investasi dan tenaga kerja meningkat

Berdasarkan data Sakernas 2015–Agustus 2025, tenaga kerja pada industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren meningkat secara konsisten. Jumlah tenaga kerja naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta orang pada 2019. Meski sempat terdampak pandemi pada 2021 hingga turun ke 17,44 juta orang, sektor ini kembali pulih pada tahun-tahun berikutnya.

Pada periode pemulihan, penyerapan tenaga kerja terus bertambah dari 18,65 juta orang pada 2022 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, sekaligus menjadi level tertinggi selama periode pengamatan. Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan nonmigas tetap berperan penting sebagai penyedia lapangan kerja dan memiliki ketahanan yang kuat dalam mendukung perekonomian nasional.

Berdasarkan data SIINas per 23 April 2026, pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat terdapat 633 perusahaan industri yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi dan belum pernah melaporkan produksi sebelumnya. Total rencana penyerapan tenaga kerja dari pembangunan fasilitas tersebut mencapai 219.684 orang, dengan total nilai investasi sebesar Rp418,62 triliun.

Secara jumlah perusahaan, pembangunan fasilitas produksi paling banyak dilaporkan oleh subsektor Industri Pengolahan Tembakau sebanyak 72 perusahaan, diikuti Industri Minuman sebanyak 67 perusahaan, serta Industri Makanan sebanyak 60 perusahaan. Selain itu, subsektor Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia juga cukup dominan dengan 49 perusahaan yang sedang membangun fasilitas baru.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved