Genjot SDM Industri, Kemenperin Perkuat Daya Saing Manufaktur
Penguatan SDM industri diakselerasi melalui pendidikan vokasi, pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta penguasaan teknologi digital.
Ringkasan Berita:
- Penguatan SDM industri diakselerasi melalui pendidikan vokasi, pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta penguasaan teknologi digital.
- Program Magang Nasional memfasilitasi 3.969 calon tenaga kerja dan program inkubator bisnis membina 37 tenant dengan total omzet Rp11,5 miliar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) industri guna menopang kinerja sektor manufaktur.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan SDM industri menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan manufaktur.
"Industri manufaktur selama ini konsisten menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional. Oleh karena itu, penguatan SDM industri harus terus kita akselerasi melalui pendidikan vokasi, pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta penguasaan teknologi digital," tutur Agus dalam keterangan, Jumat (1/5/2026), bertepatan dengan Hari Buruh Internasional (May Day).
Melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Kemenperin menjalankan program vokasi di 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK. Sepanjang 2025, sebanyak 5.472 lulusan dihasilkan dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Selain itu, pelatihan di tujuh Balai Diklat Industri (BDI) telah melatih, mensertifikasi dan menempatkan kerja 1.362 orang.
Program Magang Nasional juga memfasilitasi 3.969 calon tenaga kerja, sementara inkubator bisnis membina 37 tenant dengan total omzet Rp11,5 miliar.
"Bahkan, dalam rangka mendukung pengembangan karier tenaga kerja industri, BPSDMI telah bekerja sama dengan 48 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk memfasilitasi sertifikasi kompetensi tenaga kerja industri," ungkap Agus.
Baca juga: May Day 2026, Pemerintah Diminta Perluas Pelatihan Vokasi Pekerja
Ia menambahkan, program reskilling dan upskilling menjadi prioritas menghadapi transformasi digital industri manufaktur.
"Dalam menghadapi era transformasi digital, Kemenperin turut aktif melaksanakan program reskilling dan upskilling bagi pekerja industri. Upaya ini dilakukan guna memastikan tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk otomatisasi, digitalisasi proses produksi, serta penerapan industri 4.0," terang Menperin.
Data menunjukkan tenaga kerja industri pengolahan nonmigas meningkat menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, tertinggi sepanjang periode pengamatan.
Baca juga: Audiensi dengan DPR, Aliansi Serikat Buruh Soroti Kesenjangan Upah Antardaerah
"Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pekerja industri di Indonesia. Kalian adalah tulang punggung industri nasional. Teruslah meningkatkan kompetensi, menjaga semangat kerja, dan beradaptasi dengan perubahan agar industri kita semakin kuat dan berdaya saing global," kata Agus.
Sementara itu, Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menyebut, serapan lulusan vokasi mencapai 68 persen saat lulus dan diproyeksikan 100 persen dalam enam bulan.
"Tingkat serapan lulusan ke industri pada tahun 2025 mencapai 68 persen sesaat setelah lulus dan diproyeksikan mencapai 100 persen dalam waktu enam bulan setelah kelulusan," jelas Doddy.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penguatan-SDM-manufaktur.jpg)