Dukung Transisi Energi, Industri Manufaktur Temukan Teknologi Filter yang Bandel Terhadap B50
Penerapan B50 (campuran 50 persen FAME/B100) membawa tantangan tersendiri dibandingkan pendahulunya, B40.
Ringkasan Berita:
- Pemakaian bahan bakar biosolar B50 pada mesin diesel berisiko membuat frekuensi penggantian filter bahan bakar menjadi lebih cepat karena endapan senyawa organik yang membuat filter cepat kotor dan injektor bahan bakar tersumbat.
- Pemakaian filter khusus bahan bakar Biodiesel B50 mencegah pengendapan kotoran yang lebih cepat dan meringakan operasional armada bermesin diesel termasuk pada alat berat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemakaian bahan bakar biosolar B50 pada mesin diesel berisiko membuat frekuensi penggantian filter bahan bakar menjadi lebih cepat ketimbang bahan bakar solar biasa.
Ini karena penggunaan biosolar B50 (campuran minyak nabati sawit 50 persen) menyebabkan filter solar cepat kotor akibat senyawa organik minyak nabati yang lebih kompleks daripada minyak bumi.
Itu sebabnya, filter bahan bakar harus lebih sering diganti untuk mencegah penyumbatan dan penurunan performa mesin.
Baca juga: Kementan Diminta Percepat Peremajaan Sawit Rakyat untuk Topang Program B50
Perusahaan manufaktur lokal PT Bpfilters Industri Mandiri memperkenalkan filter Biodiesel B50 untuk mencegah pengendapan kotoran yang lebih cepat pada filter bahan bakar.
Bonny Pratama, Direktur Utama Bpfilters Indonesia, mengatakan, penerapan B50 (campuran 50 persen FAME/B100) membawa tantangan tersendiri dibandingkan pendahulunya, B40.
"Meski lebih ramah lingkungan, kadar FAME yang tinggi memiliki sifat higroskopis (mudah menyerap air), lebih cepat teroksidasi, serta memicu pembentukan sludge dan pertumbuhan mikroba di dalam tangki bahan bakar," ungkap Bonny dikutip Selasa, 26 Mei 2026.
Karena itu pihaknya berupaya berinovasi menciptakan filter solar untuk mendukung rencana strategis pemerintah dalam memperluas implementasi program Biodiesel B50 di sektor industri nasional.
Bonny menjelaskan, filter solar ini dirancang khusus untuk mesin diesel dan alat berat berbasis bahan bakar B50. Proses manufakturnya dilakukan 100 persen lokal di pabrik Bpfilters di Bogor, Jawa Barat.
"Kami berupaya menjawab kekhawatiran para pelaku industri di sektor pertambangan, perkebunan, dan konstruksi terkait tantangan teknis penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi," ungkap Bonny Pratama.
Bonny menjelaskan, filter ini untuk mengantisipasi potensi keluhan yang mungkin muncul, seperti filter yang cepat buntu, injektor tersumbat, hingga penurunan produktivitas alat berat.
Pihaknya menerapkan 3 hal ketika mendesain teknologi filtrasi untuk bahan bakar B50, yaitu Increase Filtration Area, Multi Stage Water Separation & Advance Micron Rating Media.
Bonny mengklaim, penerapan ketiga teknologi ini terbukti mampu memperpanjang umur filtrasi secara signifikan, menjaga performa mesin tetap stabil, dan secara langsung menghemat konsumsi bahan bakar karena pembakaran yang lebih bersih.
Berdasarkan data penggunaan pada konsumen yang menggunakan B40, efisiensi yang dihasilkan sangat kontras dibandingkan filter konvensional.
Untuk kendaraan niaga jenis truk dan bus, pemakaian filter solar standar mengalami kebuntuan di jarak tempuh 5.000 km, setelah kemudian memakai filter Bpfilters, masa pakai filter melonjak hingga 20.000 km.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Aplikasi-filter-bahan-bakar.jpg)