Selasa, 19 Mei 2026

Saat Stok Beras Melimpah dan Impor Tak Lagi Jadi Pilihan

Indonesia saat ini telah mencapai swasembada, karena stok kebutuhan pangan utama masyarakat sudah melimpah.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunnews.com
Potret kondisi gunungan karung beras di Gudang Swasta yang disewa PT Perum Bulog yang berlokasi di JDP Karawang 1 Logistic Park, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis 26 April 2026. (Rizki Sandi Saputra/Tribunnews.com) 
Ringkasan Berita:
  • Kementan mencatatkan stok ketersediaan beras mencapai 5,1 juta ton.
  • Indonesia saat ini telah mencapai swasembada, karena stok kebutuhan pangan utama masyarakat sudah melimpah.
  • Arab Saudi, Malaysia, hingga Palestina sudah masuk dalam daftar rencana ekspor beras dari dalam negeri.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia di April 2026 boleh dikatakan mengukir sejarah baru di sektor pangan, usai PT Perum Bulog bersama dengan Kementerian Pertanian RI (Kementan) mencatatkan stok ketersediaan beras mencapai 5,1 juta ton.

Sejumlah pihak secara percaya diri menyatakan kalau Indonesia saat ini telah mencapai swasembada, karena stok kebutuhan pangan utama masyarakat sudah melimpah.

Sebab, angka itu disebut menjadi yang paling moncer di sektor pangan sejak Republik ini merdeka pada tahun 1945.

Baca juga: Perintah Prabowo ke Bos Bulog: Bangun Gudang yang Banyak dan Setop Ketergantungan Impor Beras

Beberapa waktu lalu atau tepatnya pada Kamis 23 April 2026, Tribunnews berkesempatan untuk melihat langsung kondisi gudang yang disewa Bulog untuk menyimpan ribuan ton beras di JDP Karawang 1 Logistic Park, Karawang, Jawa Barat.

Di dalam gudang yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 12 hektare tersebut, terlihat ribuan karung beras bertumpuk rapih dan mengisi seluruh bangunan gudang yang ada.

Dalam tinjauan tersebut, Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama PT Perum Bulog Letjend TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani terlihat bergembira. 

Raut mukanya memancarkan kebahagiaan karena telah dicapainya keberhasilan untuk menjaga pangan dalam negeri setidaknya untuk sepanjang tahun ini.

Bahkan sesekali, keduanya menunjukkan dengan semangat kepada para tamu undangan yang hadir termasuk kepada awak media soal kondisi stok beras secara nasional saat ini.

"Ini bisa kita lihat, stok beras kita secara nasional, ini baru di salah satu gudang Bulog di Karawang," ucap Amran sembari menatap ke arah tumpukan karung beras.

Setidaknya ada 3 gudang dari puluhan gudang ukuran jumbo yang didatangi oleh keduanya. 

Menariknya, keseluruhan gudang tersebut memang terlihat sesak dengan tumpukan beras yang bertingkat.

Kepada awak media, Amran secara tegas menyatakan, saat ini Indonesia sudah tidak lagi membutuhkan impor dari negara lain.

Sebab dia menilai, RI sudah layak disebut menjadi negara yang swasembada di sektor pangan pangan karena stok beras yang dimiliki Bulog lebih dari cukup.

"Alhamdulillah kita tidak impor di 2025. Insyaallah 2026 tidak impor beras. Cadangan kita adalah tertinggi sepanjang sejarah, di bulan April," ucap Amran.

Bahkan Amran berkelakar, Indonesia akan menjadi salah atau negara yang paling siap jika dibutuhkan oleh negara lain untuk menyuplai beras.

Setidaknya, Arab Saudi, Malaysia, hingga Palestina sudah masuk dalam daftar rencana ekspor beras dari dalam negeri.

"Kita ekspor kirim ke saudara kita, Palestina, 10.000 ton. Sekarang berikutnya, kita sudah negosiasi melalui Bulog, mudah-mudahan 200.000 ton bisa kita ekspor. Jangankan 200.000, 500.000 pun bisa diekspor ke negara yang membutuhkan. Nanti kita akan negosiasi (ke Malaysia)," kelakar Amran.

Direktur Utama PT Perum Bulog Letjend TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani juga menyatakan kalau stok beras di Indonesia menjadi yang paling tinggi terjadi selama perusahaan tersebut berdiri, atau sejak 59 tahun.

Secara tegas Rizal menyebut, kondisi stok beras Indonesia saat ini selaras dengan momen perayaan HUT ke-59 Bulog yang mengusung tema Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan.

Terlebih, dalam waktu dekat ini bukan tidak mungkin Indonesia akan mencapai ketersediaan beras sebagai bahan pangan utama sebanyak 6 juta ton.

"Selama 59 tahun berdirinya Bulog sampai dengan hari ini, capaian tertinggi ya hari ini. Ini capaiannya stok Bulog sampai 5,3 juta ton. Ini suatu capaian yang luar biasa dan membanggakan," ucap Rizal saat perayaan HUT Ke-59 Bulog di Halaman Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Senin (11/5/2026).

"Ini di tanggal 11, mungkin nanti di akhir bulan, di akhir bulan Mei ini bisa mencapai 6 juta ton," yakinnya.

Beragam aksi sosial dilakukan oleh PT Bulog di hari HUT ke-59 tersebut, salah satunya turut andil dalam menyiapkan bahan paket sembako di Perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei 2026.

Bulog pada momen tersebut, menyiapkan setidaknya 350 ribu paket sembako yang dibagikan untuk para buruh yang hadir dalam perayaan May Day yang digelar di Monas, Jakarta Pusat.

Pembagian sembako juga dilakukan oleh Bulog kepada seluruh pekerja kebersihan hingga masyarakat sekitar yang ada di sekitaran lingkungan kerja PT Bulog.

Rizal menyebut, perayaan HUT yang dilakukan oleh Bulog merupakan senada dengan arahan langsung yang disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto.

"Dalam program ulang tahun ini memang sesuai dengan arahan Bapak Presiden seluruh jajaran Kementerian dan Lembaga tidak diizinkan untuk yang sifatnya hura-hura. Jadi sifatnya yang lebih mendekatkan diri dan mensyukuri nikmat cukup dengan acara syukuran tidak perlu panggil band tidak perlu panggil artis-artis," ucapnya.

Tak hanya menjamin ketersediaan stok terhadap beras, Bulog juga dipastikan Rizal turut melakukan intervensi ke seluruh pasar guna memastikan harga bahan pokok tetap stabil.

Gabah yang dihasilkan oleh petani diserap oleh Bulog sehingga bisa menghasilkan beras yang dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Bukan hanya beras, komoditas lain seperti jagung dan minyak goreng kemasan Minyakita juga turut dipantau distribusi serta penjualannya.

"Bulog juga menjaga stabilisasi harga, baik mulai pembelian harga gabah di sawah, yaitu sesuai dengan Inpres Presiden yaitu Rp6.500 per kilogram, kemudian penjualan juga sesuai dengan HET yang mana beras medium adalah Rp12.500 dan beras premium adalah Rp14.900. Termasuk juga minyakita Rp15.700 dan jagung Rp5.400 per kilogram," sambung dia.

Hanya saja, upaya mendistribusikan bahan pokok termasuk Minyakita memang tidak jarang menimbulkan ironi.

Meski Rizal mengaku seluruh penugasan yang diberikan oleh pemerintah kepada Bulog sudah dilakukan secara merata, namun, masih banyak pedagang di pasar yang mengeluhkan langkanya stok Minyakita.

Kata Rizal, Bulog mendapat penugasan 35 persen terhadap penyaluran Minyakita berdasarkan Domestic Market Obligation (DMO).

MINYAKITA LANGKA DAN MAHAL - Pedagang sembako di Pasar Minggu dan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tak lagi berharap bisa jual Minyakita dengan kondisi harga yang mulai mahal dan ketersediaan stok yang langka, Kamis (14/5/2026).
MINYAKITA LANGKA DAN MAHAL - Pedagang sembako di Pasar Minggu dan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tak lagi berharap bisa jual Minyakita dengan kondisi harga yang mulai mahal dan ketersediaan stok yang langka, Kamis (14/5/2026). (Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra)

Dari data internal Bulog, seluruh pasar dipastikan oleh Rizal sudah tersalurkan dengan baik, hal itu ditandai dengan kode hijau pada salah satu aplikasi yang dimiliki pihaknya.

"Nah, di situ aplikasi minyak kita ada. Di situ sudah hijau semua, Alhamdulillah, sejak minggu yang lalu. Jadi sudah upaya Bulog yang DMO yang diberikan kepada Bulog lebih kurang 35 persen tersebut sudah tersalurkan semaksimal mungkin kepada seluruh pasar-pasar SP2KP maupun pasar-pasar tradisional," kata dia.

Akan tetapi, keluhan datang dari sejumlah pedagang sembako di kawasan Jakarta Selatan yang mengaku sudah tidak lagi berharap bisa memasarkan minyak goreng kemasan Minyakita di tokonya.

Keluhan itu diutarakan oleh Tinah (50), seorang pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang menyatakan betapa sulitnya kini menjual Minyakita karena harganya yang mulai tinggi serta stok yang langka.

Dengan raut muka cueknya, Tinah mengutarakan kalau dirinya sudah enggan menjual minyak goreng tersebut.

"Minyakita kan ya sebagian sih memang masih banyak (pembeli) nyariin, tapi pedagang sudah enggak mau jual. Sebagian sudah mahal, mendingan minyak yang bagus sekalian," kata Tinah kepada Tribunnewscom saat ditemui di toko dagangannya, Kamis (14/5/2026).

Atas kondisi yang dialaminya itu, Tina akhirnya lebih memilih untuk menjual minyak goreng yang lebih premium namun harga jualnya tidak jauh berbeda dibandingkan Minyakita.

Hal senada juga disampaikan oleh pedagang lainnya bernama Mukhlisin. Kata dia, ketersediaan Minyakita di toko miliknya sudah mulai kosong bahkan sejak 2 bulan lalu.

Kata dia, usai lebaran Idulfitri 1447 kemarin, tidak ada lagi minyak goreng merek Minyakita yang dijual di tokonya.

"Iya, betul juga itu ya. Langka. Sesudah habis Lebaran nih, sudah susah. Kosong banget" ujar Muklisin.

Pedagang berusia 30 tahun tersebut mengaku sangat sulit untuk mendapatkan stok Minyakita baik dari petugas sales maupun dari agen.

Dia bahkan menyebut, pernah sampai memaksakan menyediakan Minyakita dengan membeli dari rekan pedagang lain.

Dirinya lantas berharap, pemerintah melalui Bulog sebagai salah satu BUMN Pangan yang mendapat penugasan pendistribusian Minyakita untuk memperhatikan kondisi tersebut hingga turun ke pasar.

Menurutnya, banyak pembeli yang kerap menanyakan ketersediaan Minyakita namun produk yang dicari tidak pernah lagi tersedia.

"Sebulanan enggak jual itu. Beli ada pelayan (toko) ada itu saya ambil gitu baru pelayan, gitu, minta lima enggak ada. Satu-satu dikasih. Itu pun rezeki kalau dikasih. Iya," tutup Mukhlisin.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved