Pelemahan Rupiah Untungkan Ekspor Komoditas Tambang dan Perkebunan
Depresiasi rupiah dinilai dapat menjadi peluang bagi industri berbasis ekspor untuk meningkatkan pendapatan.
Ringkasan Berita:
- Depresiasi rupiah dinilai dapat menjadi peluang bagi industri berbasis ekspor untuk meningkatkan pendapatan.
- Sektor yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah industri ekspor berbasis komoditas tambang dan perkebunan.
- Kenaikan harga komoditas global membuat nilai ekspor Indonesia berpotensi meningkat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memunculkan dua sisi dampak bagi perekonomian Indonesia. Depresiasi rupiah dinilai dapat menjadi peluang bagi industri berbasis ekspor untuk meningkatkan pendapatan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sektor yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah industri ekspor berbasis komoditas tambang dan perkebunan.
"Iya ada, ada juga. Pada saat rupiah melemah ekspor-ekspor pun pasti akan kembali naik terutama adalah untuk ekspor tambang seperti batubara, nikel, timah, CPO ini pasti akan mengalami keuntungan," tutur Ibrahim saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).
Kenaikan harga komoditas global membuat nilai ekspor Indonesia berpotensi meningkat. Sayangnya, keuntungan pelaku usaha tidak sebesar yang dibayangkan, karena biaya operasional, seperti transportasi juga ikut melonjak.
Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat lonjakan harga minyak dunia membuat biaya distribusi dan pengiriman barang meningkat.
"Memang diuntungkan untuk tambang, tetapi kan biaya logistik transportasi naik juga karena BBM-nya naik, sehingga untungnya pun juga tidak terlalu besar," ujarnya.
Ia menilai pihak yang justru paling diuntungkan dari kondisi tersebut adalah pemerintah melalui peningkatan penerimaan pajak dari sektor komoditas.
Baca juga: Sore Ini Rupiah Ditutup Melemah Rp17.703, Sulit Menguat dalam Jangka Pendek
"Yang diuntungkan adalah pemerintah dari pajak. Pajaknya dapat gede karena harganya (komoditas) kan naik," ungkap Ibrahim. Sementara bagi pelaku usaha, kenaikan biaya logistik (transportasi) membuat margin keuntungan menjadi lebih terbatas.
Menurut Ibrahim, kondisi saat ini berbeda dibanding periode perang Rusia-Ukraina ketika harga komoditas energi melonjak tajam akibat embargo negara-negara Barat terhadap Rusia.
"Berbeda pada saat Rusia perang dengan Ukraina, kemudian Amerika-Eropa mengembargo Rusia terhadap minyak, batubara, itu untungnya besar," terangnya.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Simak Tips untuk Menjaga Keuangan Melalui Investasi yang Aman
Ia menilai situasi saat ini lebih kompleks karena dipicu ketegangan di Selat Hormuz yang berdampak langsung terhadap distribusi minyak global.
"Tetapi karena ini masalahnya kan Selat Hormuz. Selat Hormuz ditutup ini berpengaruhnya cukup luar biasa terhadap transportasi minyak sebanyak 20 persen," ucap Ibrahim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-kelapa-sawit-tandan-buah-segar-CPO.jpg)