Rupiah Melemah Paling Parah Sepanjang Sejarah, Sore Ini Ditutup Rp 17.529 Per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot sore ini ditutup melemah di posisi Rp17.529 per dolar AS, Selasa, 12 Mei 2026.
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot sore ini ditutup melemah di posisi Rp17.529 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah hari ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia.
Pelemahan juga terjadi pada mata uang regional Asia terhadap dolar AS seperti won Korea Selatan, yen Jepang, peso Filipina.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot sore ini ditutup melemah di posisi Rp17.529 per dolar AS setelah sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.535 per dolar AS di perdagangan intraday, Selasa, 12 Mei 2026.
Dengan demikian rupiah melemah 0,66 persen dibanding penutupan hari sebelumnya ydi Rp 17.414 per dolar AS dan menjadi pelemahan terburuk rupiah sepanjang masa.
Namun pelemahan ini tidak semata-mata terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang regional di Asia juga melemah. Ini antara lain terjadi pada won Korea Selatan dengan pelemahan terdalam di Asia yang melemah 1,11 persen
Peso Filipina sore ini juga ditutup melemah 0,56 persen dan rupee India merosot 0,43 persen serta baht Thailand yangjuga melemah 0,39 persen.
Pelemahan juga terjadi pada dolar Singapura sebesar 0,33 persen dan dolar Taiwan yang melemah 0,28 persen dan ringgit Malaysia yang melemah 0,25 persen.
Mata uang Asia lainnya seperti yen Jepang juga melemah 0,2 persen, dolar Hong Kong turun 0,003 persen.
Yaun China jadi mata uang di Asia satu-satunya yang sore ini ditutup menguat terhadap dolar AS dengan kenaikan 0,003 persen.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor eksternal terutama karena ketegangan di Selat Hormuz yang terus berlanjut.
Baca juga: Rupiah Ditutup Ambles ke Rp17.528 per Dolar AS, Investor Khawatir Perang AS-Iran dan Ekonomi RI
“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” kata Ibrahim kepada wartawan, Selasa, 12 Mei 2026.
Ketegangan di Teluk meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak keras proposal perdamaian yang diajukan Iran yang disusul serangan di Selat Hormuz.
Uni Emirat Arab (UEA) kini ikut terseret perang melawan Iran dengan menyerang kilang-kilang minyak milik Iran di Pulau Lavan.
"Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional. Ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC (Organisasi Negara Pengeskpor Minyak) terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika,” kata Ibrahim.
Baca juga: IHSG Ambles 1,43 Persen, Nilai Tukar Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS
Konflik yang terus berlanjut di kawasan Teluk ini membuat indeks dolar menguat dan berdampak isgifikan terhadap kenaikan harga minyak mentah khususnya jenis Brent.
Pelemahan rupiah kali ini juga membuktikan bahwa indikator positif pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, tidak mampu mendorong perbaikan ekonomi.
Ibrahim mengatakan, perekonomian RI di kuartal I 2026 banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah dan kecil sekali dampaknya terhadap investasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-dolar-AS-diambil-dari-Pexels-pada-22-Mei-2025-I.jpg)