Rabu, 20 Mei 2026

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Bisa Perkuat Industri Domestik?

Di tengah tekanan eksternal, sejumlah kalangan menilai depresiasi rupiah justru dapat membuka ruang penyesuaian struktural bagi perekonomian RI

Tayang:
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Ketika rupiah melemah, harga barang ekspor Indonesia dalam mata uang dolar otomatis turun. Kondisi ini membuat produk manufaktur, komoditas, hingga hasil industri nasional lebih menarik bagi pembeli luar negeri. 

Di sisi lain, barang impor menjadi lebih mahal. Dampaknya, industri dan konsumen dalam negeri mulai mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri dan beralih ke produk lokal.

Situasi ini dapat menciptakan ruang tumbuh bagi industri domestik, terutama sektor yang selama ini kalah bersaing akibat banjir barang impor murah.

"Tugas pemerintah adalah memastikan pelemahan rupiah tidak sekadar menjadi gejolak pasar, melainkan momentum transformasi,” tegasnya.

Pertumbuhan masih rapuh

Di sisi lain, Deni menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Menurutnya, angka tersebut memberi kesan stabilitas ekonomi nasional masih terjaga.

Namun, di balik capaian itu, fondasi pertumbuhan ekonomi dinilai masih rapuh. Sebab, pertumbuhan lebih banyak ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.

"Transformasi struktural sejauh ini belum terlihat nyata. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah,” katanya.

Deni menyebut pendorong utama pertumbuhan ekonomi berasal dari lonjakan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,81 persen. Namun, efisiensi investasi masih rendah, tercermin dari tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio).

"Infrastruktur dibangun, tetapi output yang dihasilkan relatif kecil dibandingkan input. Artinya, belanja fiskal belum menghasilkan produktivitas jangka panjang,” jelasnya.

Karena itu, dia merekomendasikan agar sebagian belanja fiskal dialihkan ke penguatan kualitas sumber daya manusia, seperti program nutrisi, pendidikan, dan vokasi.

Ketimpangan Menjadi Bom Waktu

Deni juga menyoroti dominasi Pulau Jawa yang masih menyumbang 57,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara wilayah luar Jawa dinilai masih tertinggal.

"Ketimpangan ini berpotensi memperlebar jurang sosial-ekonomi dan memicu ketidakstabilan politik. Pertumbuhan yang tidak inklusif akan menjadi bom waktu pembangunan nasional,” katanya.

Selain itu, dia memperkirakan harga minyak dunia masih akan bertahan tinggi dalam waktu cukup lama. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan biaya produksi, inflasi energi, hingga risiko defisit fiskal.

"Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi dengan memanfaatkan gas domestik dan energi terbarukan agar tidak terus bergantung pada impor minyak,” pungkasnya.

Pengaruh Eksternal?

Sebelumnya, pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin kompleks.

Menurutnya, salah satu faktor utama berasal dari ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved