Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio Minta Gubernur BI Mundur
Rupiah melemah ke rekor Rp 17.671 per dolar AS, membuat Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio mendesak Gubernur BI Perry Warjiyo mundur.
Ringkasan Berita:
- Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio meminta Gubernur BI Perry Warjiyo mundur usai rupiah melemah ke Rp 17.671 per dolar AS.
- Primus menilai kinerja BI dipertanyakan karena rupiah dan IHSG terus merosot, serta menyerukan sikap gentleman dari Perry untuk mengundurkan diri.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio meminta kepada Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya, usai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang makin loyo ke level Rp 17.671 pada, Senin (18/5/2026) pagi ini.
Dorongan tersebut disampaikan oleh Primus saat rapat kerja dengan Perry di Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Senin.
Mulanya, Perry menyoroti soal anomalinya kondisi ekonomi Indonesia yang disebut mengalami pertumbuhan 5,61 persen akan tetapi nilai tukar rupiah terus anjlok.
Baca juga: Menkeu Purbaya Soal Rupiah dan IHSG Ambruk: Tak Apa-apa, Nanti Diperbaiki
"Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," kata Primus dalam ruang rapat.
Tak hanya terhadap nilai tukar rupiah, Primus juga menyoroti makin merosotnya nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.
Kata dia, di saat seluruh negara sudah kembali rebound imbas perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, Indonesia justru mengalami minus.
"Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," ucap dia.
Atas kondisi ini, politikus PAN tersebut menyatakan kalau sejatinya dunia internasional telah menyoroti kinerja dari BI yang merupakan bank sentral di Indonesia.
Menurut dia, kualitas terhadap kinerja BI dari menurunnya seluruh aspek perekonomian di Indonesia harus dipertanyakan secara tajam.
"Ini kan bagaimana global mempertanyakan, salah satu, ada banyak faktor, tetapi mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, Bank Sentral kita ini. Nah, ini yang menurut saya, saya harus secara tajam pertanyakan," ucapnya.
Sebab kata Primus, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap seluruh mata uang asing yang ada di dunia.
Bahkan kata dia, terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia, nilai tukar rupiah juga keok.
"Faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro. Saya masih ingat Pak, Euro tahun waktu awal-awal tahun 2006 itu 7.000 per Euro, sekarang hampir 19.000, hampir 20.000," ucapnya.
Primus lantas menyinggung sikap gentleman dari Perry dalam menyikapi kondisi saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/raker-BI-perry-diminta-mundur.jpg)