Kamis, 4 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Nilai Tukar Rupiah Makin Terpuruk, Tembus Rp17.917 per Dolar AS

Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melemah 34 poin menjadi Rp17.839 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.

Tayang:
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
RUPIAH MENGUAT - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan. Sekitar pukul 10.01 WIB, rupiah sudah ambles 0,44 persen atau 78 poin ke level Rp17.917 per dolar AS. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah pada Rabu pagi melemah 0,44 persen atau 78 poin ke level Rp17.917 per dolar AS, mendekati Rp18.000.
  • Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan berasal dari ketidakpastian global, konflik Iran-AS, Selat Hormuz, dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
  • Di tengah tekanan rupiah, Indonesia masih mencatat inflasi 3,08 persen, PMI manufaktur 50,0, dan surplus neraca perdagangan 5,64 miliar dolar AS.

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026) makin anjlok mendekati level Rp18.000.

Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.01 WIB, rupiah sudah ambles 0,44 persen atau 78 poin ke level Rp17.917 per dolar AS.

Tercatat, pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melemah 34 poin menjadi Rp17.839 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.

Baca juga: Menelaah Arah Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, sebelumnya menyampaikan, ambruknya rupiah dipengaruhi adanya sektor eksternal salah satunya ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Terlebih kebijakan Presiden AS Donald Trump terbaru terkait konflik di Timur Tengah dan perubahan tarif impor sebagai faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar global.

"Kita melihat ada kontradiksi. Di satu sisi, faktor eksternal sangat dinamis karena pernyataan Trump soal Iran dan Selat Hormuz. Namun di sisi lain, data domestik kita seperti inflasi dan manufaktur masih di zona aman," ujar dia.

Tak hanya itu, pernyataan Trump yang berubah-ubah terkait negosiasi dengan Iran juga justru menjadi ketidakpastian global memuncak.

"Kuncinya ada di Selat Hormuz. Iran sempat menghentikan hampir semua pengiriman, yang mengakibatkan pasokan gas dan minyak dunia tercekik hingga 20 persen. Ini yang membuat harga energi melonjak 50 persen dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah," jelas Ibrahim.

Selain itu, Trump baru-baru ini juga menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi.

Proklamasi tersebut diyakini Ibrahim dapat menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15%.

Menurut dia, kebijakan proteksionisme AS ini bertujuan membangun kembali basis industri mereka, namun berisiko mengganggu arus perdagangan global.

Selain berasal dari eksternal, pelemahan rupiah juga terjadi karena adanya faktor internal atau yang berada di dalam negeri meski pemerintah mencatatkan angka yang baik untuk kondisi perekonomian RI.

Dimana, Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026. 

Selian itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved