Gejolak Rupiah
Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Bank Indonesia Beberkan Biang Keroknya
Tekanan rupiah dipicu konflik Timur Tengah, kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, serta repatriasi dividen.
Ringkasan Berita:
- Bank Indonesia mengaku terus melakukan intervensi pasar valas untuk menjaga rupiah yang melemah ke Rp17.880 per dolar AS.
- Tekanan rupiah dipicu konflik Timur Tengah, kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, serta repatriasi dividen.
- BI memperkuat stabilisasi lewat transaksi NDF, DNDF, spot, pembelian SBN, dan pembatasan beli valas tanpa underlying mulai Juni 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia mengaku telah melakukan intervensi di pasar valuta asing agar kurs rupiah tidak terlalu jatuh, meski saat ini sudah mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Pada perdagangan Jumat (29/5/2026) sore, rupiah telah merosot ke level Rp17.880 per saham.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah.
Baca juga: Pakar Soroti Urgensi Kunker Prabowo ke Luar Negeri saat Rupiah Melemah: Rakyat Mulai Distrust
"Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN (utang luar negeri) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," papar Deny.
Menurutnya, sebagaimana disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Selain itu, kata Denny, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.
Dari sisi permintaan dolar AS, Denny menyampaikan, Bank Indonesia juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi USD25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.
Lebih lanjut Ia mengatakan, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rupiah-Ditutup-Menguat-Rp16768-per-USD-Sore-Ini_20260127_214352.jpg)