Rabu, 3 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Jangan Diam, Ekonom Minta Lakukan Hal Ini

Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.01 WIB, rupiah sudah ambles 0,44 persen atau 78 poin ke level Rp17.917 per dolar AS.

Tayang:
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat. Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.01 WIB, rupiah sudah ambles 0,44 persen atau 78 poin ke level Rp17.917 per dolar AS. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah ke Rp17.917 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026), semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
  • Analis Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan dipicu ketegangan AS-Iran, konflik di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang mendorong ekspektasi suku bunga tinggi di AS.
  • Dari dalam negeri, kebutuhan dolar untuk impor energi, pembayaran dividen, pelunasan utang luar negeri, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap valas ikut menekan rupiah.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.01 WIB, rupiah sudah ambles 0,44 persen atau 78 poin ke level Rp17.917 per dolar AS.

Tercatat, pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melemah 34 poin menjadi Rp17.839 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.

Baca juga: Menelaah Arah Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Pengamat Ekonom dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. 

Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama. 

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas akibat belum tercapainya kesepakatan mengenai program pengayaan uranium Iran.

Di saat yang sama, konflik yang melibatkan Israel, Lebanon, dan kelompok Hizbullah juga meningkatkan kekhawatiran pasar.

Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat.

Menurut Ibrahim, kondisi ini membuat pasar memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih berpeluang menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun 2026.

"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia WTI di 94,58. Kemudian grain crude oil ini pun juga mengalami penguatan di 96,72," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak juga meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi. Permintaan dolar yang tinggi untuk kebutuhan impor, pembayaran dividen perusahaan, dan pelunasan utang luar negeri turut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Ibrahim juga menilai sebagian masyarakat mulai mengalihkan simpanannya ke mata uang asing (valas), yang semakin menambah permintaan dolar di pasar.

Untuk memperkuat rupiah, Ibrahim menyarankan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat melalui ketersediaan barang, penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran, serta pemberian stimulus ekonomi.

"Nah jadi dalam negeri sendiri kita melihat bahwa pemerintah itu harus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Dengan cara apa? Dengan cara memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama adalah barang-barang impor yang terlihat lebih mahal, ini harus bisa dijaga ketersediaannya," tutur dia.

Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong investasi, memperkuat sektor industri dan pertanian, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menyederhanakan regulasi perizinan agar lebih mudah bagi investor.
 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved