Sabtu, 6 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Bhima CELIOS: Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar pada Akhir Juni, Kelas Menengah Menyusut

Bhima Yudhistira memperingatkan rupiah berpotensi menembus Rp20.000 per dolar jika pemerintah gagal merespons tekanan ekonomi.

Tayang:
Endrapta Pramudiaz/Tribunnews.com
ANJLOK JUNI AKHIR - Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira ketika ditemui di Hotel Mercure, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (25/7/2024). 
Ringkasan Berita:
  • Direktur CELIOS Bhima Yudhistira memperingatkan rupiah berpotensi menembus Rp20.000 per dolar AS jika tren pelemahan berlanjut.
  • Ia menilai pemerintah tidak boleh lagi menyangkal tekanan ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat.
  • Bhima juga menyoroti menyusutnya kelas menengah dan pentingnya memulihkan kepercayaan investor terhadap fiskal negara.

 

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara memperingatkan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir Juni apabila tren pelemahan yang terjadi saat ini terus berlanjut.

Pernyataan tersebut disampaikan Bhima dalam podcast bersama Refly Harun saat membahas kondisi ekonomi nasional, pelemahan rupiah, hingga dampaknya terhadap dunia usaha dan masyarakat.

"Kalau soal rupiah, saya hitung kalau pelemahannya per hari itu 0,5 persen, maka kita pada akhir Juni itu bisa tembus Rp20.000 per dolar," kata Bhima dikutip dari YouTube Refly Harun.

Menurutnya, pelemahan rupiah tidak bisa dianggap sebagai persoalan yang hanya berdampak pada sektor keuangan atau investor.

Ia menilai masyarakat desa hingga kelas pekerja juga akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, hingga meningkatnya biaya hidup.

Bhima mengaku mendapat banyak keluhan dari kalangan industri, terutama sektor manufaktur dan otomotif yang mulai mengkhawatirkan kenaikan biaya produksi akibat pelemahan kurs.

Ia menyebut sejumlah perusahaan bahkan mulai menghadapi penurunan kapasitas produksi karena ketergantungan terhadap bahan baku impor.

"Kalau kurs terus melemah, banyak perusahaan bisa kolaps atau paling tidak mempersiapkan PHK massal karena biaya produksi meningkat," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bhima meminta pemerintah mengakui adanya tekanan ekonomi yang sedang terjadi dan tidak meremehkan dampaknya terhadap masyarakat.

Menurutnya, Indonesia tidak dapat memisahkan diri dari dinamika ekonomi global, sehingga gejolak eksternal seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, maupun ketidakpastian pasar keuangan dunia tetap akan berimbas pada kondisi domestik.

Baca juga: Rupiah Ambrol, Ferry Latuhihin Sampaikan Surat Terbuka untuk Prabowo: Pemerintah Bikin Blunder

Ia menilai sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar tetap dipertahankan meski ruang fiskal semakin terbatas.

Bhima mengingatkan bahwa pembiayaan program-program tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap APBN apabila tidak diimbangi dengan sumber pendanaan yang kuat dan berkelanjutan.

"Saya kira pemerintah harus mengakui bahwa ada tekanan ekonomi. Jangan denial. Ada situasi yang memang harus diperbaiki, ada kebijakan yang harus dievaluasi," katanya.

Bhima menambahkan pasar saat ini tidak hanya melihat besarnya program yang dijalankan pemerintah, tetapi juga memperhatikan kemampuan negara dalam membiayai program-program tersebut secara berkelanjutan.

Apabila muncul keraguan terhadap kondisi fiskal Indonesia, lanjut dia, dampaknya bisa berupa pelemahan rupiah yang lebih dalam, kenaikan biaya utang, hingga turunnya minat investor.

Kelas Menengah Menyusut, Bukan Naik Kelas

Selain menyoroti kondisi nilai tukar, Bhima juga mengungkap fenomena menyusutnya jumlah kelas menengah di Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, banyak masyarakat yang sebelumnya berada dalam kategori kelas menengah justru mengalami penurunan kemampuan ekonomi dan bergeser ke kelompok yang lebih rentan.

Ia menyebut penyusutan kelompok kelas menengah mencapai sekitar 10 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

"Kelas menengah hilang bukan karena mereka makin kaya. Justru banyak yang turun ke bawah," ujarnya.

Bhima menilai kelompok kelas menengah selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian lebih melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas, perlindungan sosial yang memadai, serta kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat.

Menurutnya, pekerjaan dengan produktivitas tinggi masih banyak bertumpu pada sektor manufaktur dan industri pengolahan yang mampu menyerap tenaga kerja terampil dalam jumlah besar.

Bhima juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan atau trust investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Menurut dia, investasi akan sulit masuk apabila pelaku usaha dan investor menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah tidak memberikan kepastian.

Ia menyebut salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah keberlanjutan anggaran negara di tengah berbagai program yang membutuhkan pembiayaan besar.

"Kalau orang bertanya bagaimana bisa percaya pada rupiah dan membangun pabrik di Indonesia, maka yang harus diperbaiki adalah kebijakan fiskalnya. Kuncinya ada pada trust," kata Bhima.

Ia menilai pemulihan kepercayaan pasar harus dimulai dengan evaluasi terhadap program-program yang dinilai bermasalah serta perbaikan tata kelola kebijakan ekonomi.

Menurutnya, masuknya investasi baru akan menjadi faktor penting untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat sektor industri, dan menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Di akhir diskusi, Bhima mengingatkan bahwa pemerintah masih memiliki kesempatan untuk melakukan koreksi kebijakan. Namun, langkah tersebut harus dilakukan segera agar tekanan terhadap rupiah, dunia usaha, dan masyarakat tidak semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.

 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved