Gejolak Rupiah
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ade Jona Ajak Genjot Kinerja Ekspor
Pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global saat ini menjadi sinyal pentingnya menggenjot kinerja ekspor Indonesia
Ringkasan Berita:
- Ade Jona Prasetyo ingin menjadikan Hipmi sebagai rumah kolaborasi pengusaha berdaya saing global.
- Ia menilai penguatan ekspor dan hilirisasi UMKM menjadi kunci memperkuat rupiah.
- Jona berjanji memperjuangkan kenaikan plafon KUR UMKM dari Rp500 juta menjadi Rp2 miliar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global saat ini menjadi sinyal pentingnya menggenjot kinerja ekspor Indonesia. Namun, baru sekitar 1 persen pengusaha nasional yang aktif melakukan ekspor secara langsung.
Data Kementerian Koordinator Perekonomian pada 2025, kontribusi UMKM terhadap total ekspor nasional hanya di kisaran 15,7 persen. Padahal, sektor ini menyumbang lebih dari 99 persen dari total unit usaha dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja domestik.
Merespons fenomena ini, Calon Ketua Umum (Caketum) Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ade Jona Prasetyo berkomitmen mengerek kinerja ekspor.
Instrumennya, dengan menjadikan Hipmi sebagai rumah kolaborasi berdaya saing global. Jona percaya, kehebatan anak-anak muda Indonesia bisa menjadi aktor utama di rantai pasok global.
Ia mencontohkan QRIS, standar pembayaran ciptaan Indonesia yang sudah berlaku di sembilan negara. Bahkan secara akumulasi sudah tembus Rp 1.000 triliun.
"Ini membuktikan Indonesia mampu menjadi pionir di global. Kita harus bangga menggunakan QRIS," ujar Jona dikutip Kamis (4/6/2026).
Di tengah pelemahan mata uang garuda yang tembus Rp 18.000 per dolar AS, Jona memandang kinerja ekspor harus ditingkatkan. "Karena rupiah akan kuat jika ekspor kita kuat. Sehingga kita harus buktikan melalui ekspor," cetusnya.
Jona optimis, dengan menjadikan Hipmi sebagai rumah kolaborasi pengusaha berdaya saing global, rupiah akan stabil. Terlebih, fokusnya adalah menjadikan pelaku UMKM naik kelas melalui hilirisasi.
Ia mengatakan, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 61 persen. Dengan UMKM yang berdaya saing global, bukan tidak mungkin pasar dunia akan dibanjiri produk-produk Indonesia.
"Kita bukan hanya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi menjadi pemain utama di pasar internasional," ujar pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum BPP Hipmi.
Baca juga: Rupiah Terus Melemah Sampai ke Rp18.000, BI Bilang karena Konflik Timur Tengah
Jona memahami, pelaku UMKM perlu modal untuk melakukan hilirisasi. Sebab itu, ia akan memperjuangkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari yang semula Rp 500 juta menjadi Rp 2 miliar untuk pelaku UMKM.
Ia juga akan memperjuangan kontribusi pengusaha lokal di setiap realisasi investasi yang masuk di Indonesia. Apalagi, realisasi investasi selama kuartal I 2026 mencapai Rp 498,8 triliun.
"Bayangkan jika investasi itu bisa kita kapitalisasi melalui pengusaha muda di daerah. Hipmi bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi mulai dari daerah hingga nasional," kata Jona.
Baca juga: Rupiah Anjlok Rp 18.000 per Dollar AS, Wakil Ketua DPR: Intervensi BI Belum Kelihatan
Ia mengatakan, potensi di daerah sangat berlimpah. Melalui program hilirisasi, Jona optimis pelaku UMKM akan naik kelas dan berdaya saing global.
"Kita akan dampingi pengusaha daerah. Contohnya sederhana, mengolah ikan jadi pempek, atau mengolah rumput laut menjadi bahan baku yang dibutuhkan industri makanan, farmasi, dan sebagainya," pungkas Jona.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ade-Jona-bursa-HIPMI.jpg)