Kamis, 4 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Ambles Rp18.000, Indonesia Hadapi Gagal Bayar Utang Luar Negeri?

Jika pemerintah kesulitan memenuhi kewajiban utang jangka pendek, maka lembaga rating utang sangat mungkin lakukan penurunan peringkat.

Tayang:
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
RUPIAH MELEMAH - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan. pelemahan rupiah bisa timbulkan krisis utang, sebab berdasarkan data Bank Indonesia per Maret 2026, utang luar negeri pemerintah jangka pendek kurang dari 1 tahun ada 16,8 miliar dolar AS setara Rp302,4 triliun (kurs Rp18.000). 

Ringkasan Berita:
  • Celios menilai pelemahan rupiah memperberat pembayaran utang luar negeri, terutama utang jangka pendek pemerintah.
  • Risiko penurunan peringkat utang dan arus modal keluar dikhawatirkan meningkat jika tekanan berlanjut.
  • BI menegaskan struktur utang Indonesia masih sehat dengan rasio ULN terhadap PDB 29,5 persen dan dominasi utang jangka panjang.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Amblesnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga tembus Rp18.000, bakal menambah beban pemerintah untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah bisa timbulkan krisis utang, sebab berdasarkan data Bank Indonesia per Maret 2026, utang luar negeri pemerintah jangka pendek kurang dari 1 tahun ada 16,8 miliar dolar AS setara Rp302,4 triliun (kurs Rp18.000).

"Ada missmatch (ketidakcocokan), pembayaran pakai pendapatan valas (valutas asing) tapi sebagian besar pendapatan pemerintah dalam bentuk rupiah," papar Bhima, Kamis (4/6/2026).

Baca juga: Rupiah Jatuh ke Rekor Terendah, Media Internasional Pertanyakan Arah Kebijakan Ekonomi RI

"Jadi pemerintah gimana mencari dalam waktu dekat 16,8 miliar dolar AS? APBN jelas tidak sanggup ditengah kebutuhan subsidi energi yang makin bengkak," sambung Bhima.

Menurutnya, jika pemerintah kesulitan memenuhi kewajiban utang jangka pendek, maka lembaga rating utang sangat mungkin lakukan penurunan peringkat (downgrade) satu atau dua tingkat. 

"Bisa jadi junk bond (surat utang peringkat rendah) utang Indonesia, dan memicu pelarian modal dari pasar surat utang. Rupiah makin amblas," ucap Bhima.

Selain persoalan utang pemerintah jangka pendek, kata Bhima, ada utang BUMN yang nilainya 33,7 miliar dolar AS.

"Sementara Danantara juga belum merilis laporan keuangan. Serba gelap ya apakah Danantara yang ikut menanggung utang BUMN?," paparnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, rasio utang jangka pendek saat ini berdasarkan jangka waktu asal terhadap cadangan devisa sudah mencapai 42,7 persen tertinggi sejak 2013. 

Bhima melihat, ada risiko utang jangka pendek yang menguras cadangan devisa untuk pembayaran. Artinya, makin besar beban ULN makin besar kebutuhan dolar AS. 

"Rupiah bisa semakin tertekan sepanjang 2026. Apalagi tahun ini dan tahun depan puncak pembayaran utang jatuh tempo," paparnya.

Atas kondisi tersebut, apakah Indonesia berpotensi gagal bayar utang luar negerinya? Bhima menyebut, semua itu tergantung dari lembaga pemeringkat S&P. 

"Kita tunggu S&P akan melakukan penurunan rating utang pemerintah berapa notch (tingkat) satu atau langsung dua? jadi bukan lagi outlook negatif. Kalau sudah ada perubahan rating, baru berikutnya risiko default (gagal bayar) meningkat," paparnya.

Data Utang Luar Negeri Indonesia

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved