Kenaikan Kas dan Penurunan Utang Jadi Sorotan Kinerja Sektor Jasa Pertambangan
Peningkatan likuiditas penting bagi perusahaan jasa pertambangan yang umumnya membutuhkan modal kerja dan belanja modal besar.
Ringkasan Berita:
- Pendapatan perusahaan jasa pertambangan dengan kode emiten MINE ini tumbuh 18,1 persen menjadi Rp676,19 miliar pada kuartal I 2026.
- Posisi kas dan setara kas meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp346,07 miliar, memperkuat likuiditas perusahaan.
- Pelunasan pinjaman jangka pendek menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (DER) menjadi sekitar 0,67 kali dari 0,87 kali pada akhir 2025.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Likuiditas yang kuat dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan usaha di sektor jasa pertambangan, terutama di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi fluktuasi harga komoditas dan meningkatnya kehati-hatian investor.
Penilaian tersebut mengemuka setelah PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026.
Selain mencatat pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga menunjukkan peningkatan posisi kas serta perbaikan struktur permodalan.
Baca juga: IHSG 5 Juni 2026: Bursa Saham Kembali Ambrol 4,2 Persen ke Level 5.594
Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai laporan keuangan kuartal pertama tahun ini mencerminkan kondisi fundamental yang semakin sehat.
Menurutnya, di tengah volatilitas pasar, investor cenderung lebih memperhatikan kualitas fundamental dan kekuatan neraca dibandingkan pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Sepanjang Januari-Maret 2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar, meningkat 18,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp572,8 miliar.
Laba usaha tercatat Rp87,98 miliar, sedangkan laba periode berjalan mencapai Rp61,95 miliar.
Alfred menilai pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi pendapatan, tetapi juga dari kemampuan perusahaan memperkuat kondisi keuangannya.
Salah satu indikatornya adalah kenaikan kas dan setara kas menjadi Rp346,07 miliar pada akhir Maret 2026, dibandingkan Rp169,32 miliar pada akhir 2025.
Menurutnya, peningkatan likuiditas tersebut penting bagi perusahaan jasa pertambangan yang umumnya membutuhkan modal kerja dan belanja modal dalam jumlah besar untuk mendukung operasional.
Posisi kas yang lebih kuat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan bisnis sekaligus mengelola kewajiban keuangan.
Dari sisi permodalan, perusahaan juga mencatat perbaikan setelah melunasi pinjaman bank jangka pendek yang masih tercatat pada akhir tahun lalu.
Langkah ini turut menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) menjadi sekitar 0,67 kali pada akhir Maret 2026, dari sekitar 0,87 kali pada akhir 2025.
Penurunan tingkat leverage tersebut menunjukkan ketergantungan terhadap pendanaan berbasis utang semakin berkurang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SEKTOR-PERTAMBANGAN-Penggunaan-truk-hauling.jpg)