Senin, 8 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Ekonom Ungkap Kebijakan Bank Indonesia yang Diduga Bikin Rupiah Babak Belur 

strategi BI mengerek suku bunga merupakan pemicu utama kaburnya modal asing (capital outflow) besar-besaran dari tanah air.

Tayang:
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
RUPIAH MELEMAH - Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Jumat (5/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ekonom Gede Sandra menilai, strategi BI mengerek suku bunga merupakan pemicu utama kaburnya modal asing (capital outflow) besar-besaran dari tanah air.
  • Strategi yang dimotori oleh tim ekonomi pemerintah menunjukkan kinerja keuangan negara yang menunjukkan performa impresif di April 2026, namun tidak diimbangi strategi moneter yang memadai oleh BI.

 

 
TRIBUNNEWS.COM, ​JAKARTA – Upaya Bank Indonesia (BI) menjalankan operasi pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat belum berhasil.

Rupiah di pasar spot pada Senin awal pekan ini, 8 Juni 2026, diperdagangkan melemah di posisi Rp18.129 per dolar AS. Di sisi lain, strategi BI menaikkan suku bunga acuan dinilai pengamat justru mempercepat kejatuhan nilai tukar rupiah. 

​Ekonom senior, Gede Sandra menilai, strategi BI mengerek suku bunga merupakan pemicu utama kaburnya modal asing (capital outflow) besar-besaran dari tanah air.

Baca juga: Industri Manufaktur Ancang-ancang Naikkan Harga Atasi Pelemahan Rupiah

Dia menilai kondisi moneter Indonesia saat ini berada di jurang bahaya yang persis pernah dialami Brazil menjelang kejatuhannya pada tahun 2002 silam.

​"Ini hal yang sebenarnya bisa dihindari bila Bank Sentral itu lebih tepat responsnya. Tapi ini malah seperti memperburuk!" cetus Gede Sandra dikutip dari keterangan pers, Senin, 8 Juni 2026.

Pasar Merespon Negatif

​Gede Sandra menjelaskan, respon pasar keuangan saat ini berbanding terbalik dengan ekspektasi Bank Indonesia. Berdasarkan penelitian ekonom dunia, Olivier Blanchard (2004), Brazil pada tahun 2002 melakukan kesalahan yang sama.

Yakni, menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, namun pasar justru panik, modal asing hengkang, dan mata uang mereka hancur. Menurut dia, kesalahan tersebut kembali diulang oleh moneter Indonesia.

​"Harapannya mata uang menguat (apresiasi), dia malah melemah. Dan masalahnya, pengalaman di Brazil ini tidak menjadi pelajaran bagi otoritas moneter di Bank Indonesia," kritik Gede.

Dia mengatakan, rasio utang Indonesia saat ini sudah menyentuh kisaran 40 persen terhadap produk domestik bruto (GDP) atau, mendekati Brazil kala itu yang berada di angka 50-60 persen.

Di sisi lain, tingkat suku bunga surat utang Indonesia sudah mahal, menyentuh 7 persen.

​"Pada saat otoritas Bank Sentral menaikkan suku bunga moneter, ternyata suku bunga surat utang juga ikut naik. Takutlah ini investor-investor melihat, wah bagaimana kalau nanti terjadi default atau gagal bayar?" paparnya.

Moneter Gembosi Fiskal

Gede Sandra mengatakan, dari sisi kebijakan fiskal, upaya yang dimotori oleh tim ekonomi pemerintah menunjukkan kinerja keuangan negara yang menunjukkan performa impresif di April 2026.

​Penerimaan negara tercatat tembus Rp918 triliun dengan belanja Rp1.024 triliun (defisit terkendali di angka 0,64 persen atau Rp164 triliun). Hebatnya, untuk pertama kalinya setelah sempat negatif di kuartal pertama, Keseimbangan Primer Indonesia berhasil mencetak SURPLUS! Neraca perdagangan pun terus menunjukkan tren positif.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved