Warung Madura Menjerit, Harga Bahan Pokok Melejit Untung Makin Menipis
Pedagang sembako Warung Madura di Jakarta mengeluhkan lonjakan harga bahan kebutuhan pokok belakangan ini.
Ringkasan Berita:
- Pedagang sembako Warung Madura di Jakarta mengeluhkan lonjakan harga bahan kebutuhan pokok belakangan ini.
- Lonjakan harga membuat margin pedagang turun karena berusaha menahan harga tidak naik demi menjaga pelanggan agar tidak lari.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pedagang sembako Warung Madura di Jakarta mengeluhkan lonjakan harga bahan kebutuhan pokok belakangan ini.
Yogi (24) yang mengelola Warung Madura di Jalan TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengatakan, selain bahan kebutuhan pokok, harga rokok juga ikut naik.
Lonjakan harga ini membuatnya berhati-hati menentukan harga jual agar pelanggan tidak kabur.
"Kalo sekarang pada naik, mah naik bang ini harga semuanya, beras, rokok itu yang paling parah," kata Yogi kepada Tribunnews.com, Jumat siang, 12 Juni 2026.
Dia mengatakan, lonjakan harga kebutuhan pokok itu diperparah dengan naiknya harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Pihaknya sebisa mungkin menahan harga jual dan mengambil keuntungan yang lebih sedikit.
Yogi menjelaskan, untuk menjual beras saat ini, dirinya mengaku hanya mengambil untung Rp30.000 untuk setiap satu karung beras yang diakui Yogi margin tersebut lebih rendah dari yang selama ini dia dapat.
"Iya (sekarung itu) Rp30.000 (untungnya). Sedangkan plastik kan mahal, plastik satu ikat Rp85.000-an plastiknya. Kalau dihitung-hitung mah ya gitu dah, tipis banget," ucap Yogi.
Yogi berharap pemerintah serius memperhatikan kondisi rakyat kecil saat ini dengan tidak menerapkan kebijakan yang membuat keadaan makin sulit.
Dia mencontohkan, keputusannya menahan harga jual agar tidak naik sebenarnya mengorbankan diri sendiri demi bisa menjaga daya beli masyarakat.
Baca juga: Kenaikan BI-Rate Jadi 5,50 Persen Akan Mengerem Pertumbuhan KPR
"Kita yang ngorbanin diri sendiri kadang, ambil untungnya dikit demi pelanggan nggak lari gitu. Pemerintah itu, kita udah bingung mau ngomong apa udah terlalu kacau ya," sambung Yogi.
Keluhan senada juga diutarakan Rian (20) pengelola Warung Madura lainnya di Jalan Sagu, Kebagusan Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026).
Rian mengaku bingung menyikapi keluhan pembeli soal naiknya harga bahan pokok. Kata dia, banyak pembeli yang terkejut saat dirinya menyebut harga baru beberapa item dagangan seperti halnya beras.
"Biasanya beras sekitar Rp15.000, sekarang naik jadi Rp16.000, Kaget mereka, iya Kok naik... Bang?," ucap Rian. Dia juga mengaku saat ini kenaikan harga turut terjadi untuk kebutuhan air mineral.
Baca juga: Fluktuasi Harga Sembako di Jakarta, Pedagang di Pademangan dan Cipete Keluhkan Sepi Pembeli
Menurut dia, harga kulakan air mineral saat ini sudah naik mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 per galon. Hal itu membuat dia berusaha menahan kenaikan harga jual air mineral galon.
Dia menyatakan, harga kulakan air mineral galon sekarang sudah Rp20.000. "Kalau kita mau jual Rp20.000 nggak dapet untung, jadi kita jual Rp21.000," sambung Rian.
Rian meminta pemerintah agar tidak gampang menaikkan harga sejumlah komoditas utama yang berpengaruh pada harga bahan pokok karena akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
"Masyarakat udah nggak mampu jangan terlalu ditekan teruslah, kasihan," tukas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Warung-Madura-di-Jaksel-OK.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.