Pelabuhan Multipurpose Simpul Konektivitas Nasional, Integrasi Transportasi dan Distribusi Pangan
Terminal multipurpose melayani curah kering, curah cair, general cargo, dan bag cargo sekaligus mendukung integrasi logistik nasional.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah berupaya memperkuat ketahanan pangan dan menekan biaya logistik melalui integrasi antarmoda transportasi.
Data Kementerian Perhubungan mencatat rasio biaya logistik nasional masih berada di level 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per Mei 2026, tertinggi dibanding negara ASEAN lain.
Tingginya biaya logistik tinggi dipicu dominasi angkutan jalan dan belum optimalnya pemanfaatan kereta barang serta angkutan laut.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono menargetkan biaya logistik nasional turun menjadi 12,5 persen dari PDB pada 2029.
Seiring dengan hal itu, Pemerintah juga menerapkan Program Zero ODOL (Over Dimension Over Loading) 2027 sebagai langkah strategis menertibkan kendaraan barang yang menyalahi standar dimensi dan kapasitas muatan.
Peran itu terlihat pada operasional yang dijalankan PTP Nonpetikemas, anak usaha Pelindo Multi Terminal, yang mengelola terminal nonpetikemas di berbagai wilayah Indonesia. Terminal multipurpose melayani curah kering, curah cair, general cargo, dan bag cargo sekaligus mendukung integrasi logistik nasional.
Kinerja perusahaan menunjukkan peningkatan aktivitas logistik. Pada Triwulan I 2026, throughput dari 11 cabang pelabuhan mencapai 12,84 juta ton.
Pelabuhan berperan dalam integrasi moda transportasi pada sejumlah aktivitas distribusi sarana perkeretaapian yang ditangani PTP Nonpetikemas. Terminal multipurpose Tanjung Priok menjadi pintu masuk trainset KRL impor untuk jaringan perkeretaapian nasional.
Sementara di Pelabuhan Panjang, Lampung, lokomotif impor yang dibongkar di terminal multipurpose langsung terhubung dengan jaringan rel menuju Stasiun Tanjung Karang sebagai bagian dari integrasi logistik multimoda.
Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno, menilai konektivitas langsung pelabuhan dan jalur rel bukan hal baru di Indonesia.
Baca juga: Purbaya Resmikan Pemindai Peti Kemas Berteknologi AI di Tanjung Priok
"Dulu zaman Belanda, kereta api itu sampai dermaga semua," terangnya saat diwawancarai pada Jumat (29/5/2026).
Ia mencontohkan Belawan, Teluk Bayur hingga Ulee Lheue. Menurut dia, integrasi tersebut penting untuk menekan biaya distribusi dan mengurangi proses bongkar muat berulang yang selama ini menambah ongkos logistik.
"Harusnya rel itu sampai dermaga supaya murah. Sekarang masalahnya double handling. Sampai dry port harus naik truk lagi," ujarnya.
Dukung Mobilisasi Penumpang dan Distribusi Pangan
Peningkatan aktivitas logistik tersebut bersamaan dengan tren meningkatnya penggunaan moda transportasi publik dan angkutan berbasis rel di berbagai daerah. PTP Nonpetikemas ikut ambil andil di dalamnya.
PT KCI mendatangkan 11 rangkaian kereta dari China mulai Januari 2025. Berlanjut, PTP Nonpetikemas kembali membongkar 24 gerbong KRL pesanan PT KCI di Tanjung Priok pada Maret 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Proses-bongkar-muat-logistik-di-Tanjung-Priok.jpg)