Kisah Sebatang Duri Emas dari Jelambar: Dirawat Bak Anak, Dibesarkan Rumah BUMN BRI
Sejak tahun 2016, Richi sudah mapan bermain di jalur distribusi, memasok durian Medan, Montong Palu dari Sulawesi, hingga jenis premium
Sejak tahun 2016, Richi sudah mapan bermain di jalur distribusi, memasok durian Medan, Montong Palu dari Sulawesi, hingga jenis premium sekelas Musang King asal Malaysia.
Sebelum terjun ke dunia si raja buah, Richi sempat mengecap asam garam bisnis digital printing dan desain grafis kemasan selama 3,5 tahun.
Ia bahkan merangkak dari bawah sejak lulus SMA pada tahun 2001, mulai dari bekerja sebagai buruh gudang hingga belajar ilmu cetak rotogravure secara autodidak pada perusahaan Tiongkok.
Namun, ketatnya persaingan sistem pembayaran korporat yang menuntut tempo kelonggaran modal (term of payment) hingga 60 hari membuat modalnya tercekik.
Ia memilih balik kanan dan mengikuti kata hatinya: berbisnis buah yang ia cintai.
Ketika pandemi Covid-19 menghantam dunia pada tahun 2021 dan kebijakan PSBB memaksa jutaan orang berdiam diri di rumah, bisnis distribusi durian Richi justru sempat melonjak tajam.
Banyak ibu rumah tangga dan karyawan yang dirumahkan beralih profesi menjadi reseller dadakan demi menyambung hidup. Namun, bulan madu itu tak bertahan lama.
"Permintaan melonjak tinggi, tapi imbasnya harga sempat kacau. Banyak pemain baru yang panik karena takut barangnya tidak keluar. Akhirnya mereka banting-banting harga, saling 'bacok' margin di pasar. Kami yang distributor lama merasa kerjanya makin capek, tapi keuntungannya makin tipis. Pasar sudah tidak sehat," kenang Richi.
Melihat opsi yang makin langka, Richi memutar otak. Ia menyadari satu celah pasar yang belum terisi di ibu kota: es krim durian yang benar-benar murni tanpa perasa esens buatan.
Di dapur rumahnya yang sederhana, bersama seorang partner, Richi memulai riset dan pengembangan (R&D) yang memakan waktu empat hingga lima bulan.
Menular Lebih Cepat dari Virus
Bermodal jaringan agen dan reseller yang telah ia bangun selama bertahun-tahun sebagai distributor buah mentah, Richi mulai melempar produk es krim durian perdananya.
Ia tidak menggunakan kulit atau biji, melainkan murni pasta daging durian pilihan yang dikemas per kilo dari para pengepul di Sumatera dan Sulawesi.
Hasilnya di luar dugaan. Produk es krim stik berukuran 70 gram itu meledak di pasaran.
"Kapasitas awal kami di dapur rumah itu cuma 30 pieces per hari. Berarti sebulan cuma sekitar 900 pieces. Tapi begitu barang masuk ke kaki-kaki reseller, respons pasar luar biasa. Dalam waktu 45 hari, kami bisa menjual 10.000 pieces. Orderan pertama masuk 100 pieces saja kami harus nunggu tiga hari karena alat seadanya," kata Richi.
Tanpa biaya promosi sepeser pun, murni mengandalkan kekuatan kualitas produk (word of mouth) dan jaringan agen, Golden Thorn tumbuh pesat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/es-krim-Golden-Thorn-1.jpg)