Rabu, 17 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp17.725 per Dolar AS, Ancaman Tarif Trump Jadi Beban

Pasar masih mencermati rencana pemerintah AS yang akan mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk asal Indonesia.

Tayang:
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
RUPIAH MELEMAH - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan. Hari ini rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp 17.725 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.708 per dolar AS. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah ditutup melemah 19 poin ke Rp17.725 per dolar AS pada perdagangan Selasa (16/6/2026).
  • Sentimen eksternal membaik setelah kesepakatan awal AS-Iran dan rencana pembukaan Selat Hormuz yang menekan harga minyak dunia.
  • Namun pasar masih mencemaskan rencana tarif impor tambahan AS terhadap produk Indonesia yang berpotensi menekan ekspor nasional.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (16/6/2026).

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp 17.725 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.708 per dolar AS.

Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berpeluang menguat di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Baca juga: Rupiah Melemah, Pakar Ingatkan Dampak Kenaikan Harga Obat, Pasien Penyakit Kronis Paling Rentan

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 19 point sebelumnya sempat menguat 5 point di level Rp.17.725 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.708," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp. 17.690- Rp.17.728," sambungnya.

Dari faktor eksternal, pelemahan dolar AS terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang selama ini memicu ketidakpastian di pasar global.

Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.

Kabar tersebut mendorong harga minyak dunia turun dan meningkatkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi global.

Harga minyak mentah Brent bahkan turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi di berbagai negara.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral dunia, termasuk Bank Sentral Jepang (BOJ), Bank Sentral Australia, Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, dan Bank of England.

"Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang. Data inflasi dan kekhawatiran yang masih ada tentang tekanan harga telah menyebabkan investor mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini," tegas Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, pasar masih mencermati rencana pemerintah AS yang akan mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk asal Indonesia.

Kebijakan tersebut berpotensi menekan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS, terutama produk manufaktur seperti mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta berbagai aksesori.

Tarif tambahan itu direncanakan mulai berlaku secara bertahap pada Juli 2026.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
VS
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
VS
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved