Kamis, 11 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Makin Ambruk, Hari Ini Bakal Tembus Rp18.200, Pengamat dan Akademisi Soroti Kebijakan Prabowo

Kondisi pelemahan nilai rupiah yang sudah di atas Rp18.000 per dolar AS perlu tanggapan serius dari pemerintah untuk mencegah risiko lebih besar.

Tayang:
HO/IST/Sekretariat Presiden
TINJAU PROGRAM MBG - Presiden Prabowo Subianto meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 111 Jakarta pada Selasa, (2/6/2026). Pelaku pasar dinilai gelisah dengan agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo Subianto terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, yang membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar.  

Ringkasan Berita:
  • Rupiah ditutup di level Rp18.187 per dolar AS dan diprediksi masih melemah hingga kisaran Rp18.230 akibat tekanan global dan sentimen pasar.
  • Pengamat menilai investor mencermati pelebaran defisit transaksi berjalan, belanja pemerintah, harga minyak tinggi, serta konflik geopolitik Timur Tengah.
  • Akademisi menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi arus modal keluar dan ketidakpastian komunikasi kebijakan, yang berisiko menekan daya beli dan meningkatkan beban utang.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi makin akan tertekan, seiring belum adanya kebijakan yang membuat investor percaya terhadap ekonomi Indonesia.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, investor atau pasar saat ini gelisah dengan agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo Subianto terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, yang membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar. 

"Pelebaran defisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surflus perdagangan Indonesia," ujar Ibrahim dikutip Selasa (9/6/2026). 

Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar 4 miliar dolar AS. Ke depan, tekanan diperkirakan semakin besar apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan nilai tukar rupiah terus melemah

Menurutnya, pelemahan rupiah membuat pemerintah harus menghitung ulang subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah.

"Harga minyak yang tinggi membuat kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak," papar Ibrahim.

Sedangkan faktor eksternal yang menekan kurs rupiah, Ibrahim menyebut masih datang dari tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas usai serangan Israel ke Lebanon dan Iran. 

"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, menurut laporan media lokal pada Senin pagi. Ini mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," paparnya.

Atas kondisi tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini masih akan melemah di rentang Rp 18.180-Rp18.230 per dolar AS.

Tercatat, perdagangan Jumat (8/6/2026), rupiah ditutup melemah 151 poin ke level Rp18.187 per dolar AS.

Baca juga: Kunjungan Masyarakat ke Mal Masih Ramai Saat Rupiah Melemah, APPBI: Sekarang Belanjanya yang Murah

Ketidakpastian Kebijakan

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM), Puji Handayati menyampaikan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, tetapi juga dipengaruhi faktor lain yang saling berinteraksi. 

Mengacu pada teori permintaan dan penawaran valuta asing (Foreign Exchange Market Theory), nilai tukar ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran mata uang asing di pasar.

“Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara pasokan dolar di pasar domestik relatif terbatas, maka nilai dolar akan menguat dan rupiah akan terdepresiasi,” ujar Puji dikutip dari laman Universitas Negeri Malang.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved