Senin, 1 September 2025

Virus Corona

Virus Corona Mudah Jangkiti Warga yang Terpapar Polusi Udara? Guru Besar UI Beri Penjelasan

Prof Budi pun menyebut, “artinya, Covid-19 sangat mampu memperparah dampak kesehatan akibat perubahan iklim."

Freepik
ilustrasi virus corona 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polusi udara diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian akibat terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Diketahui, angka kematian di DKI Jakarta akibat Covid-19 adalah yang tertinggi di Indonesia.

Baca: Cerita Wanita Nekat Mudik Jalan Kaki Menuju Pati: Jalan Belasan Kilometer, Pingsan di Minimarket

Berdasarkan data per 30 April 2020, jumlah kasus positif Covid-19 di Jakarta sebanyak 4.138 kasus.

Dari data tersebut, kasus kematian sebanyak 381 kasus, meski yang sembuh lebih banyak, yakni sebesar 412 kasus.

Terkait penyebab kematian akibat polusi udara, baru-baru ini Universitas Harvard memastikan orang yang sudah lama terpapar polusi udara menjadi kelompok yang paling rentan terkena Covid-19.

Penelitian tersebut mendapati adanya kaitan antara peningkatan 1 μg/m3 PM2.5 dengan kualitas udara saat ini, dapat berdampak pada 15% tingkat kematian akibat Covid-19.

Guru Besar Universitas Indonesia dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Budi Haryanto, menjelaskan gangguan kesehatan atau penyakit akibat pencemaran udara dapat menyebabkan kondisi akut seperti ISPA, asma, dan juga kronis.

Untuk polusi udara yang menyebabkan kondisi kronis, kata Prof Budi, umumnya berasal dari emisi BBM kendaraan bermotor, industri, dan juga kebakaran hutan.

Hal itu dinyatakannya dalam media briefing virtual “Pandemi Korona dan Polusi Udara, Bagaimana Keterkaitannya?” yang digelar oleh Koalisi Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibukota), Kamis (30/4/2020).

“Jika sudah masuk ke dalam tahap kronis, biasanya seseorang akan mengalami iritasi saluran napas, gangguan fungsi paru, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), penyakit jantung, hipertensi, diabetes, gangguan ginjal, dan lain-lain,” ujar Prof Budi.

Dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, Prof Budi menemukan bahwa 57,8%
dari populasi Jakarta telah menderita berbagai penyakit terkait polusi udara pada tahun 2010.

Merujuk pada situasi saat ini dan juga hasil-hasil penelitian kesehatan terbaru, Prof Budi meyakini,
penyakit kronis akibat polusi udara dapat memicu komorbiditas keparahan penderita Covid-19.

“Tingkat fatalitas kasus (CFR) di Indonesia 8%, sedangkan untuk global adalah 3%,” imbuh Prof Budi.

Menegaskan penelitian Universitas Harvard yang menemukan bahwa risiko kematian akibat
Covid-19 mencapai 4,5 kali lipat pada wilayah dengan polusi PM 2.5 yang tinggi, dibandingkan yang
berpolusi rendah.

Prof Budi pun menyebut, “artinya, Covid-19 sangat mampu memperparah dampak kesehatan akibat perubahan iklim."

Dengan latar belakang berbagai riset tersebut, Koalisi Ibukota yang merupakan gabungan individu maupun organisasi yang memperjuangkan hak atas udara bersih, meminta kepada pemerintah Indonesia untuk berani segera membuka data sumber emisi.

Hal itu ditujukan untuk dapat mengetahui sumber emisi apa saja yang hingga kini masih
menyebabkan angka pemantauan Indeks Kualitas Udara tetap terbilang buruk.

Polusi udara yang setiap tahun bisa menyebabkan kematian hingga jutaan jiwa di seluruh dunia,
seharusnya sudah sejak lama membuat pemerintah menyusun strategi untuk segera menyelesaikan masalah pencemaran udara.

Pemerintah memang telah mengeluarkan imbauan bekerja dari rumah (WFH) hingga
memberlakukan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pekan pertama April 2020.

Imbauan dan aturan yang ditujukan untuk mencegah penularan virus Covid-19 itu dianggap
sebagian masyarakat turut berhasil mengurangi polusi udara.

Namun kebijakan itu sendiri dibuat hanya sebatas untuk mencegah penularan virus Covid-19.

Bukan untuk secara beriringan memperbaiki kualitas udara yang sesungguhnya memiliki pengaruh untuk mengurangi angka pasien ataupun kematian akibat Covid-19.

Tidak dibarenginya perbaikan kualitas udara yang signifikan di masa pandemi ini dapat dilihat dari
catatan indeks kualitas udara.

Berbagai lembaga riset kualitas udara mendapati bahwa tingginya pencemaran udara nyatanya berbanding terbalik dengan pemandangan langit cerah di Jakarta dan kota-kota penyangga.

“Meski langit Jakarta terlihat lebih cerah ketika diberlakukan WFH dan juga PSBB, tetapi emisi dari
salah satu sumber pencemar yaitu PLTU bisa jadi tidak mengalami pengurangan yang signifikan. Ada potensi polutan tersebut juga berkontribusi pada polusi udara di Jakarta dan kota tetangganya,” ujar Bondan Andriyanu, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Bondan melanjutkan, kondisi tersebut membuat urgensi buka data emisi kepada publik sebagai hal
yang mendesak, terlebih dalam situasi sekarang.

“Masyarakat berhak tahu polusi udara yang mereka hirup ini porsinya bersumber dari mana saja, karena berpotensi membahayakan kesehatan, apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini,” tutur dia.

Sementara peneliti dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Fajri Fadhillah,
menegaskan bahwa pencemaran udara telah menyebabkan banyak masalah kesehatan serta
lingkungan.

Lambannya pengendalian pencemaran udara yang seharusnya dilakukan pemerintah,
akhirnya kini memperparah risiko gejala penyakit yang berhubungan dengan Covid-19.

“Perbaikan kualitas udara tidak saja hanya akan menguntungkan kesehatan masyarakat di saat
keadaan normal, tapi juga semakin penting dalam situasi pandemi seperti saat ini," kata Fajri.

Langkah pengendalian pencemaran udara, lanjutnya bisa diawali dengan publikasi informasi tentang kualitas udara yang lengkap (ambien, emisi, meteorologis dan geografis).

Baca: Pria Ini Nekat Minum Racun di Hadapan Warga, Diduga Depresi Ditinggal Mudik Anak Istri

Publikasi informasi tentang kualitas udara tidak saja penting untuk menyampaikan dampak atau risiko kepada masyarakat.

"Tapi juga untuk memastikan akuntabilitas pemerintah dalam pengambilan kebijakan pengendalian pencemaran udara," tambahnya.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul: Polusi Udara juga jadi Penyebab Penyebaran Covid-19, Pemerintah Diminta Bertindak

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan