Virus Corona
Selain Delta, Para Ilmuwan Sedang Amati Varian Baru Virus Penyebab Covid-19
Para ilmuwan saat ini memang tetap fokus pada varian Delta yang dominan di dunia, namun terus melacak varian lainnya yang bisa muncul di masa datang.
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Penyebaran virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit virus corona (Covid-19) terus berlanjut dan telah melahirkan varian alfabet Yunani, sistem penamaan yang digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melacak mutasi baru virus penyebab COVID-19.
Beberapa mutasi bahkan 'telah melengkapi virus' dengan cara yang lebih baik untuk bisa menginfeksi manusia atau menghindari perlindungan vaksin pada tubuh.
Para ilmuwan saat ini memang tetap fokus pada varian Delta yang menjadi varian dominan Covid-19 di seluruh dunia, namun mereka terus melacak varian lainnya untuk melihat kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.
Baca juga: Tak Seganas Varian Delta, Pemerintah Sebut Varian Mu Belum Ditemukan di Indonesia
Baca juga: Pakar UGM Sebut Varian Mu Tak Seganas Varian Delta
Apakah varian Delta saat ini masih menjadi yang dominan ?
Varian Delta yang kali pertama terdeteksi di India tetap menjadi varian yang paling mengkhawatirkan.
Pada banyak negara,varian Delta menyerang populasi yang tidak atau belum divaksinasi dan telah terbukti mampu menginfeksi proporsi yang lebih tinggi dari orang yang telah divaksinasi dibandingkan varian sebelumnya.
Dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (9/9/2021), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Delta sebagai 'varian yang mengkhawatirkan.
Ini berarti varian tersebut telah terbukti mampu meningkatkan penularan, menyebabkan gejala penyakit yang lebih parah serta mengurangi manfaat dari vaksin.
Menurut seorang Ahli Virologi di La Jolla Institute for Immunology di San Diego, Shane Crotty, 'kekuatan super' Delta terletak pada kemampuan penularannya.
Peneliti China menemukan bahwa orang yang terinfeksi Delta membawa virus 1.260 kali lebih banyak di hidung mereka dibandingkan dengan versi asli virus corona.
Beberapa penelitian Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa viral load pada individu yang telah divaksinasi namun terinfeksi varian Delta, setara dengan mereka yang tidak divaksinasi.
Namun penelitian lebih lanjut terkait temuan ini masih sangat diperlukan.
Jika dibandingkan virus corona asli yang membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk bisa menyebabkan gejala, Delta dapat menimbulkan gejala dua hingga tiga hari lebih cepat, memberi lebih sedikit waktu bagi sistem kekebalan tubuh untuk merespons dan meningkatkan pertahanan.
Lalu bagaimana dengan varian Lambda ?
Varian Lambda telah menarik perhatian sebagai ancaman baru yang potensial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona-ilustrasi-varian-delta-kappa-lambda.jpg)