Minggu, 31 Agustus 2025

Virus Corona

Singapura Pelajari Kemungkinan Penggunaan Vaksin Non-mRNA untuk Dosis Booster

Singapura sedang mempelajari kemungkinan penggunaan vaksin non-mRNA virus corona atau Covid-19 sebagai dosis penguat atau booster.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
freepik.com
Ilustrasi vaksin Covid-19. Singapura sedang mempelajari kemungkinan penggunaan vaksin non-mRNA virus corona atau Covid-19 sebagai dosis penguat atau booster. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Singapura sedang mempelajari kemungkinan penggunaan vaksin non-mRNA virus corona atau Covid-19 sebagai dosis penguat atau booster.

Singapura pun sedang menjalin pembicaraan dengan pihak pemasok untuk mendapatkan jenis vaksin tersebut.

Hal tersebut disampaikan Menteri Senior Negara untuk bidang Kesehatan Singapura, Janil Puthucheary di Parlemen, pada Selasa.

Ia menanggapi beberapa pertanyaan yang dilontarkan Anggota Parlemen (MP) tentang strategi vaksinasi Singapura dan bagaimana penerapannya pada jalan menuju 'hidup berdampingan dengan Covid-19'.

"Komite Ahli Kementerian Kesehatan (MOH) tentang vaksinasi Covid-19 secara aktif mempelajari strategi heterolog yang melibatkan vaksin non-mRNA," kata Puthucheary.

Ia menambahkan bahwa kementerian akan terus mengamati data global dan lokal, terutama terkait risiko efek sampingnya sebelum merekomendasikan dosis booster untuk kelompok populasi tambahan.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (14/9/2021), saat ini, komite itu telah merekomendasikan agar kelompok lanjut usia (lansia) berusia di atas 60 tahun menerima dosis booster pada 6 hingga 9 bulan setelah penerimaan dosis kedua.

Baca juga: Ilmuwan Internasional Sebut Masyarakat Umum Tidak Perlu Disuntik Vaksin Booster Covid-19

Sementara mereka yang memiliki gangguan kekebalan (immunocompromized) harus mendapatkan suntikan booster pada dua bulan setelah penerimaan dosis kedua vaksin Covid-19.

Departemen Kesehatan Singapura telah mengatakan pada 3 September lalu bahwa orang-orang yang mengalami immunocompromized harus mendapatkan dosis booster dari vaksin mRNA yang sama untuk 'memastikan bahwa mereka memulai dengan respons kekebalan protektif yang memadai terhadap vaksinasi'.

Selain itu, komite ahli akan mempelajari apakah merek vaksin yang berbeda akan menunjukkan hasil yang lebih efektif sebagai dosis booster.

Baca juga: Menkes: Tahun Depan Beli Vaksin Booster Covid-19 di Apotek Layaknya Beli Obat 

"Kami sedang bernegosiasi dengan pemasok untuk memberikan kami suntikan booster non-mRNA, dan beberapa sedang mempersiapkan aplikasi mereka untuk PSAR (jalur akses khusus pandemi)," kata Puthucheary.

PSAR telah mengizinkan Otoritas Ilmu Kesehatan untuk memberikan otorisasi sementara bagi vaksin yang akan digunakan di Singapura.

Vaksin Sinovac dengan jenis virus yang tidak aktif pun telah diberikan otorisasi ini pada Juni lalu, setelah disetujui untuk penggunaan darurat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara vaksin non-mRNA dalam daftar penggunaan darurat WHO termasuk diantaranya vaksin vektor virus seperti Oxford-AstraZeneca dan Johnson & Johnson, serta vaksin tidak aktif lainnya Sinopharm.

Baca juga: Vaksin Booster Berbayar Direncanakan Tahun Depan, Menkes: Masyarakat Bisa Pilih Vaksin Covid-19

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan